Senin, 01 Mei 2017

psikoterapi dalam psikoanalisis menganalisa psikopatologi berdasarkan perkembangan psikoseksual



Psikoanalisis
Menurut Freud, psikoanalisis mempunyai tiga arti Bertens, 1979: x – xi). Pertama, istilah psikoanalisis dipakai untuk menunjukkan suatu metoda penelitian terhadap proses-proses psikis yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. kedua, istilah ini menunjukan juga suatu teknik untuk menyembuhkan gangguan-gangguan jiwa yang dialami pasien neurosis. Ketiga, istilah yang sama juga dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metoda dan teknik tersebut.
A.    Psikoanalisis sebagai Aliran Psikologi
Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian. Di samping itu aliran psikologi ini juga membahas ketidak sadaran, mimpi,   neurosis, dan lain-lain.
1.   Alam sadar dan Alam tak sadar
Freud menjadi sangat terkenal berkat gagasannya tentang alam sadar (conscious mind) dan alam tak sadar (unconscious mind) meskipun dia bukan orang pertama yang menemukan ide itu. Dia menjadi terkenal karena mampu membuat ide tersebut menjadi terkenal (Boeree, 2005: 346).
Alam sadar merupakan apa yang disadari individu pada saat-saat tertentu, misalnya penginderaan, ingatan, pemikiran, fantasi, perasaan, dst.  Disamping alam sadar dan alam tak sadar, Freud juga menyatakan adanya alam pra-sadar (preconscious mind), yaitu apa yang sekarang lebih populer dengan sebutan kenangan yang tersedia (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dipanggil ke dalam alam sadar (Boeree, 2005 : 346).  Isi alam pra-sadar berasal dari alam sadar dan alam tak sadar. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan untuk pindah ke daerah pra-sadar dan di sisi lain isi materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah pra-sadar (Alwisol, 2005: 18).
Alam tak sadar, menurut Freud, merupakan bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan bagian terpenting dari jiwa manusia. Freud menegaskan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi kenyataan empirik (Alwisol, 2005: 18). Isi dari daerah tak sadar adalah instink-instink, impuls dan dorongan-dorongan yang dibawa sejak lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatis tertentu, yang menurut Freud biasanya terjadi pada masa kanak-kanak,  yang ditekan oleh kesadaran untuk pindah ke daerah tak sadar. (Boeree, 2005 : 346).
2. Kepribadian
Menurut Freud tujuan pokok dilakukannya analisis terhadap aspek-aspek kejiwaan manusia bukan untuk mendapatkan teknik penyembuhan gangguan jiwa tetapi untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai kehidupan kejiwaan pada umumnya (Masrun, 1977 : 5). Itulah sebabnya pembahasan tentang kepribadian menjadi dominan dalam Psikoanalisis. Secara garis besar Psikoanalisis  membahas kepribadian dari tiga aspek, yaitu struktur, dinamika, dan perkembangan.
a.   Struktur kepribadian
Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki itga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17).
Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan the Id, the Ego, dan the Super Ego), yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri.
1)   Das Es
Das Es (the Id) adalah aspek biologis kepribadian yang paling dasar, sistem yang didalamnya terdapat naluri-naluri, yang merupakan factor bawaan. Das Es merupakan aspek biologis dari kepribadian, yang fungsinya adalah mempertahankan konstansi, maksudnya membawa organisme dari keadaan tidak menye-nangkan, karena munculnya kebutuhan-kebutuhan, ke keadaan seperti semula, yaitu menyengkan. Oleh karena itu dinayatkan oleh Freud bahwa prinsip bekerjanya das Es adalah pleasure principle. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, das Es memiliki perlengkapan dua macam proses. Proses yang pertama yaitu tindakan-tindakan refleks dan proses primer, adalah suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang mekanisme kerjanya otomatis dan segera. Proses yang kedua adalah proses primer, yaitu dengan membentuk bayangan dari objek tertentu yang bisa mengurangi ketegangan.
2) Das Ich
Das Ich atau the Ego merupakan aspek psikologis dari kepribadian yang terbentuk melalui hasil interaksi individu dengan realitas. Dengan das Es, individu diarahkan pada kenyataan. Adapun proses yang ada pada das Ich adalah proses sekunder (secondary process). Dengan proses sekundernya tersebut das Ich memformulasikan rencana bagi bagi pemuasan kebutuhan dan menguji apakah hal itu bisa dilakukan atau tidak. Dengan demikian, das Ich bagi individu bukan hanya bertindak sebagai penunjuk kepada kenyataan, tetapi juga berperan sebagai penguji kenyataan atau reality tester dan dalam memainkan peranannya, das Ich melibatkan fungsi psikologis yang tinggi yaitu fungsi intelektual (Koeswara, 1991 : 34).
3) Das Ueber Ich
Das Ueber Ich atau the Super Ego adalah aspek sosiologis dari kepribadian, yang isinya berupa nilai-nilai atau aturan-aturan yang sifatnya normative. Menurut Freud das Ueber Ich terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai dari figur-figur yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu. Aspek kkepribadian ini memiliki fungsi :
a) sebagai pengendali das Es agar dorongan-dorongan das Es disalurkan dalam bentuk aktivitas yang dapoat diterima masyarakat;.
b) mengarahkan das Ich pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral;
c) mendorong individu kepada kesempurnaan.
Dalam menjalankan tugasnya das Ueber Ich dilengkapi de-ngan conscientia atau nurani dan ego ideal. Freud menyatakan bahwa conscentia berkembang melalui internalisasi dari peri-ngatan dan hukuman, sedangkan ego ideal berasal dari pujian dan contoh-contoh positif yang diberikan kepada anak-anak.
b.   Dinamika Kepribadian
1)   Distribusi enerji
Dinamika kepribadian,  menurut Freud bagaimana energi psikis di-distri-busikan dan dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Freud menyatakan bahwa enerji yang ada pada individu berasal dari sumber yang sama yaitu makanan yang dikonsumsi. Bahwa enerji manusia dibedakan hanya dari penggunaannya, enerji untuk aktivitas fisik disebut enerji fisik, dan enerji yang dunakan untuk aktivitas psikis disebut enerji psikis.
Freud menyatkan bahwa pada mulanya yang memiliki enerji hanyalah das Es saja. Melalui mekanisme yang oleh Freud disebut identifikasi, energi tersebut diberikan oleh das Es kepada das Ich dan das Ueber Ich.
Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mecha-nism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan das Es maupun untuk menghadapi tekanan das Uber Ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991 : 46).
Freud menyatakan bahwa mekanisme pertahanan ego itu adalah mekanisme yang rumit dan banyak macamnya. Berikut ini 7 macam mekanisme pertahanan ego yang menurut Freud umum dijumpai (Koeswara, 1991 : 46-48).
1) Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego untuk mere-dakan kecemasan dengan cara menekan dorongan-dorongan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidak sadaran.
2) Sublimasi, adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif das Es yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk tingkah laku yang bisa diterima, dan bahkan dihargai oleh masyarakat.
3) Proyeksi, adalah pengalihan dorongan, sikap, atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.
4)   Displacement, adalah pengungkapan dorongan yang menim-bulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya dibanding individu semula.
5)   Rasionalisasi, menunjuk kepada upaya individu memutar-balikkan kenyataan, dalam hal ini kenyataan yang mengamcam ego, melalui dalih tertentu yang seakan-akan masuk akal. Rasionalissasi sering dibedakan menjadi dua : sour grape technique dan sweet orange technique.
6) Pembentukan reaksi,  adalah upaya mengatasi kecemasan karena individu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara berbuat sebaliknya.
7) Regresi, adalah upaya mengatasi kecemasan dengan bertinkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
B.     Perkembangan Kepribadian
1)   Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
Perkembangan  kepribadian individu menurut Freud, dipengauhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.
Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.
2)   Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhir tahun ke lima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 1982 : 172-173).
1)  Fase oral (oral stage ): 0 sampai kira-kira 18 bulan Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut.
2)   Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus.
3)   Fase falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun.
Bagian tubuh yang sensitif pada fase falis adalah alat kelamin.
4)   Fase laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas Pada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
5)   Fase genital (genital stage) :  terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi
3. Instink atau Naluri
Freud menyatakan bahwa manusia merupakan kompleks sistem energi, yang yang diperolehnya dari makanan dan dipergunakan untuk bermacam-macam hal.  Bagi Freud, energi yang ada dalam diri manusia dapat berupa energi psikis maupun energi fisik. Kedua energi tersebut dapat saling dipindahkan, dari energi psikis ke energi fisik dan sebailknya (Sumadi Suryabrata, 2000 : 149). Faktor yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah das es dengan naluri-nalurinya. Konsep-konsep Freud tentang naluri atau instink adalah sebagai berikut.
Freud sangat tertarik dengan mimpi dan berusaha menjelaskannya dalam kerangka teori psikoanalisis. Bahkan analisis mimpi dijadikan metoda penelitian dalam psikoanalisis. Freud tertarik dengan mimpi karena sejumlah alasan  berikut ini (Berry, 2001 : 33).
1) Mimpi terjadi di tengah tidur, ketika pikiran sadar melepaskan cengkeramannya dan membuatnya tanpa kekangan. Freud meman-dang mimpi sebagai manisfestasi alam tak sadar. Oleh karena itu ia menyebut mimpi sebagai via regia (jalan besar) untuk menuju alam bawah sadar.
2) Bahwa orang tak dapat dipaksa untuk mengerti tentang apa yang sedang berlangsung dalam alam ketidaksadarannya dan hanya dengan analisis mimpi dan asosiasi bebas alam tak sadar yang berhubungan dengan neurotil benar-benar dapat dimengerti.
3) Menurut Freud, mimpi seringkali berhubungan dengan masalah-masalah seksual yang berasal dari masa kanak-kanak. Masalah tersebut menurut Freud hanya bisa diselesaikan analisis mimpi dan asosiasi bebas.
4) Freud memandang semua mimpi sebagai ekspresi dari pemenuhan harapan.
a.   Mekanisme mimpi
Freud menyatakan bahwa setiap mimpi memiliki isi manifest dab laten. Manifes merupakan aspek dari suatu mimpi yang secara sadar teringat, sedangkan laten adalah aspek dari mimpi yang tidak dimengerti secara sadar sebelum dilakukan analisis. Mekanisme munculnya mimpi dengan  dua aspek tersebut mekanismenya menurut Freud sebagai berikut (Berry, 2001 : 36).
b.   Metoda penafsiran mimpi
Freud menolak pandangan yang menyatakan bahwa mimpi sebagai hasil yang tidak bermakna dari proses yang dialami tubuh pada saat tidur. Ia beranggapan bahwa setiap mimpi memiliki arti.  Untuk menyingkap arti mimpi, Freud menggunakan dua metoda, yaitu metoda simbolik dan metoda sandi (Berry, 2001: 39).
1)   Metoda simbolik
Metoda simbolik adalah metoda penafsiran mimpi melalui pen-carian makna dari symbol-simbol yang muncul dalam mimpi (manifestasi impian).
2)   Metoda sandi (decoding)
Dalam metoda sandi Freud berusaha menggunakan “kunci” yang tepat. Freud memberi catatan bahwa metoda sandi bukan metoda ilmiah karena “kunci” aslinya bisa saja salah.
Dalam bukunya yang diberi judul The Interpretation of Dream, Freud menganalisis mimpinya sendiri, karena ia merasa bahwa kliannya yang menderita neurosis mungkin saja mempunyai mimpi yang tidak mewakili “normanya”  selain itu, untuk menganalisis mimpi klien berarti meng-ekspos hal-hal yang bersifat rahasia dari pasien. Berkenaan dengan penafsiran mimpi, Freud telah memberikan saran-saran yang bermanfaat sebagai berikut (Berry, 2001: 40).
1) Menafsirkan mimpi merupakan suatu kerja keras yang membu-tuhkan ketekunan.
2) Setelah analisis terhadap suatu mimpi selesai dilakukan hendaknya hasilnya diendapkan terlebih dahulu. Wawasan yang segar bisa saja muncul belakangan.
3) Mimpi seringkali terjadi dalam kelompok-kelompok yang memiliki tema yang serupa. Suatu wawasan yang muncul dalam sebuah mimpi mungkin dapat mengungkap keseluruhan rangkaian mimpinya.
4) Sesuatu yang tampaknya dangkal atau remeh di dalam suatu mimpi mungkin sebenarnya merupakan suatu wawasan mendalam yang tersembunyi.
5) Penting bagi analis untuk memberikan perhatian terhadap semua komentar klien betapapun kelihatannya remeh.
5.   Kecemasan
Manusia merupakan organisme yang tentu saja tidak bisa lepas dari lingkungan. Dari lingkungan, individu dapat memenuhi berbagai kebu-tuhannya. Dan dari lingkungan pula individu dapat mengalami kecemasan (anxiety).
a.   Macam-macam kecemasan
Freud membedakan kecemacam menjadi tiga macam, yaitu kece-masan realistis, kecemasan neurotis, dan kecemasan moral (Surya-brata,   Koeswara, 1991 : 45).
1)   Kecemasan  realistis
Kecemasan realistis adalah kecemasan atau ketakutan individu terhadap bahaya-bahaya nyata yang ada di lingkungannya, misalnya binatang buas, orang jahat, dst.
2)   Kecemasan neurotis
Kecemasan neurotis adalah kecemasan yang timbul karena tidak terkendalinya dorongan-dorongan primitive (das Es) oleh das Ich yang nantinya bisa mendatangkan hukuman.
3)   Kecemasan moral
Kecemasan moral merupakan kecemasan yang terjadi akibat tekanan das Ueber Ich pada das Ich. Tekanan terbut muncul karena individu telah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip moral.
b.   Fungsi kecemasan
Freud menyatakan bahwa kecemasan tidak selalu berarti negatif tetapi dapat berfungsi positif,  yaitu sebagai peringatan akan dating-nya bahaya atau sesuatu yang tak diharapkan. Dengan adanya peringatan tersebut maka akan muncul tindakan-tindakan tertentu untuk mengatasinya.
c.   Dampak negatif kecemasan
Kecemasan atau ketakutan yang tidak dapat dikuasai dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut ketakutan traumatis (Suryabrata, 2000 : 162). Ketakutan yang demikian itu, menurut Freud, akan membawa individu yang bersangkutan kepada ketidak berdayaan yang infantile. Sebenarnya, demikian menurut Freud (Suryabrata, 2000: 162), prototipe dari semua ketakutan manusia adalah trauma kelahiran. Bayi yang baru lahir, kata Freud, sudah dihadapkan dengan berbagai stimuli-stimuli yang yang sangat berat bagi dirinya.
6.   Mourning dan Melancholia
Konsepsi Freud tentang mourning (keberkabungan) dan melancholia (depresi berat) dikemukakan dalam tulisan yang berjudul Mourning  and Melancholia (1915).  Freud menyatakan bahwa mourning dan melancholia sering dialami oleh orang yang bercerai atau pasangannya meninggal dunia. Adapun manisfestasi dari kedua gejala tersebut adalah sebagai berikut (Berry, 2001: 84-85).
a.   Individu yang bersangkutan mengutuk diri sendiri untuk apa yang telah terjadi, dan iapun berusaha menghancurkan diri sendiri, atau bahkan bunuh diri.
b.   Individu yang bersangkutan menarik diri dari dunia luar, seperti halnya dalam nacissisme, tetapi kali ini dirinya dilihatnya begitru buruk, tak berharga, kotor, dan sebagainya.
c.   Keberkabungan (mourning) yang parah dapat menyembunyikan rasa benci yang direpresi terhadap pasangannya yang “hilang” tersebut. Orang yang telah tidak ada tersebut diidentifikasikan dengan ego penderita, sehingga kebencian berubah menjadi kebencian terhadap diri sendiri. Freud menyebut gejala ini sebagai introyeksi.
d.   Penderita mungkin kembali ke dalam keadaan kanak-kanak, dengan ditandai oleh dominannya gigitan, buang air, dst.
7.   Psikopatologi
Freud memandang psikopatologi sebagai masalah dalam perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu yang komulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa. Psikopatologi menurut psikoanalisis ada beberapa jenis yaitu : histeria, fobia, obsesi- kompulsi, depresi, dan ketagihan obat (Alwisol, 2005 : 45).
a.   Histeria
Histeria merupakan gangguan fisik, misalnya lumpuh, tuli, buta, dst. Yang penyebabnya bukan factor jasmaniah tetapi factor kejiwaan. Menurut Freud hysteria merupakan transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik.
b.   Fobia
Fobia adalah ketakutan yang tidak realistis. Freud memandang gangguan ini sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa berupa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual maupun kecemasan akibat peristiwa traumatis.
c.   Obsesi-kompulsi
Obsesi adalah ide tertentu yang selalu melekast pada diri seseorang sedangkan kompulasi adalah dorongan (bersifat paksaan dari dalam) untuk melakukan tindakan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu, secara berulang-ulang .
d.   Depresi
Depresi merupakan gangguan jiwa dengan gejala-gejala perasaan tidak mampu, tidak berguna dan berharga. Menurut Freud, depresi berakar pada kehilangan cinta berkenaan dengan oedipus complex, sehingga dia marah pada diri sendiri
e.   Ketergantungan pada alcohol dan obat-obatan
Menurut Freud ketergantungan seseorang pada alkohol maupun obat-obatan dilator belakangi oleh instink kematian (thanatos) yang ada pada orang yang bersangkutan.
C.    Psikoanalisis sebagai Teknik Terapi
Telah dikekemukakan di bagian depan bahwa teori psikoanalisis (psikoanalisis sebagai aliran) psikologi dibangun berdasarkan data-data yang diperoleh Freud dari praktik kedokteran, khususnya dalam penanganan histeria. Meskipun Freud menyatakan bahwa apa yang ia lakukan tujuan utamanya untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang perilaku manusia, dan bukan untuk mendapatkan cara yang paling tepat dalam penanganan gangguan jiwa, tetapi tetapi diakui bahwa psikoanalisis juga merupakan teknik terapi. Teknik terapi yang dikembangkan Freud berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya. Dan ternyata apa yang ia lakukan mendapatkan pengakuan dari kalangan yang terkait bahkan menjadi dasar dalam psikoterapi modern.
1.   Tujuan psikoterapi
Psikoterapi dilakukan Freud bukan semata-mata untuk menghilangkan sindrom yang tidak dikehendaki, tetapi yang terutama ditujukan untuk memperkuat ego (das Ich) sehingga mampu mengendalikan dorongan-dorongan dari das Es dan memperbesar kemampuan individu untuk berkarya. Dalam psikoterapi klien dilatih bagaimana dorongan-dorongan agresif dan seksual, bagaimana mengarahkan keinginan dan bukan diarahkan oleh keinginan.
2.  Ciri-ciri Teknik Terapi Freud
Terapi Freud lebih berpengaruh bila dibandingkan teknik terapi yang dikembangkan oleh ahli lainnya. Teknik terapi Freud memiliki karakteristik tertentu yaitu (Boeree, 2005 : 354-355, Alwisol, 2005: 46).
a.   Dilaksanakan dalam suasana santai
Terapi dilakukan Freud dalam suasana santai. Suasana seperti itu diciptakan Freud melalui penataan ruang, warna dinding, penca-hayaan, dst  yang dibuat sedemikian rupa sehingga pasien betul-betul merasa nyaman dan betah berada di ruang tersebut.  Dengan suasana santai Freud berharap konflik-konflik yang telah ada di alam tidak sadar akan mudah muncul kea lam sadar.
b.   Klien diberi kebebasan
Dalam terapi Freud, klien dibebaskan untuk bicara apa saja, termasuk menangis, menjerit, mengumpat, dst   Jika klien mengalami bloking atau kebuntuan Freud berusaha membantu sehingga terjadilah asosiasi antara apa yang ada dalam alam tak sadar dengan apa yang berikan oleh terapis.
c.   Waktu pelaksanaan
Pertemuan terapeutik, pertemuan antara klien dan terapis dalam psikoterapi, biasanya dilakukan 4 atau 5 kali seminggu(1 sampai 2 jam pertemuan), selama 2 sampai 3 tahun.
3. Teknik-teknik  yang Dipakai Freud dalam Terapi
Ada beberapa teknik yang dipakai Fredu dalam psikoterapinya, yaitu asosiasi bebas, analisis mimpi, parapraxies atau Freudian slips, interpretasi, alasisis tesisten, tranferensi dan pengulangan (Alwisol, 2005:46). Berikut penjelasan singkat untuk teknik-teknik tersebut.
a. Asosiasi bebas
Dalam asosiasi bebas klien dipersilakan mewngemukakan apa saja yang terlintas dalam isi jiwanya, tidak peduli apakah hal itu remeh, memalukan, tidak logis, ataupun kabur. Dari ungkapan kesadaran tanpa sensor ini terapis memahami masalah kliennya. Asosiasi bebas dikembangkan Freud dan diterapkan dalam psikoterapi berdasarkan tiga asumsi (Alwisol, 2005 : 46 – 47), yaitu :
1) apa saja yang dikatakan dan dilakukan seseorang sekarang, mempunyai makna dan berhubungan dengan perkataan dan perbuatannya dimasa lalu;
2) materi yang ada dalam ketidak sadaran berpengaruh penting terhadap tingkah laku;
3) materi yang ada dalam ketidak sadaran dapat dibawa ke kesadaran dengan mendorong ekspresi bebas setiap kali hal itu muncul ke dalam pikiran.
Menurut Freud, meskipun klien menghalangi topic tertentu dan berusaha menyembunyikannya, suatu saat terbentuk rantai aso-siasi yang membuat terapis dapat memahami konflik yang telah terjadi pada klien.
b. Analisis mimpi
Ketika seseorang tidur control kesadaran terhadap ketidak sadaran menjadi lemah sehingga ketidak sadaran berusaha muncul keeper-mukaan dalam bentuk mimpi. Dengan memahami makna mimpi berarti dapat dipahami pula aspek-aspek ketidak sadaran yang berhu-bungan dengan konflik yang terjadi.
c. Freudian slips
Freudian slips atau parapraxes adalah gejala salah ucap, salah membaca, salah dengar, salah meletakkan objek, dan tiba-tiba lupa. Bagi Freud gejala-gejala tersebut bukan bersifat kebetulan, tetapi berhubungan erat dengan ketidak sadaran. Dengan menganalisis ge-jala-gejala tersebut akan terungkap gambaran mental yang ada diba-liknya.
d. Interpretasi
Dalam interpretasi terapis mengenalkan kepada klien makna yang tidak disadari dari pikiran perasaan, dan keingingannya.
e. Analisis resistensi
Resistensi adalah mekanisme pertahanan dari klein untuk tidak mengungkapkan topik tertentu kerana alasan tertentu pula. Oleh karena itu dengan menganalisis apa yang ingin disembunyikan klien akan dapat diperoleh informasi yang sangat penting berkenaan dengan masalah yang pernah dialami klien.
f. Tranferensi
Transferensi adalah pengungkapan isi ketidak sadaran yang ter-simpan sejak masa kanak-kanak dengan memakai terapis senagai medianya.
g. Pengulangan
Pengulangan atau working through berupa tindakan menginter-pretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulang resistensi dan transferensi, pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan. Tindakan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai terapis menemukan akar permasalah yang menyebabkan klien mengalami gangguan.

REFERENSI
Berry, Ruth. (2001)  Freud : Seri Siapa Dia. (Alih Bahasa : Frans Kowa). Jakarta: Erlangga.
Boeree, C.G. (2005) Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Alih Koeswara, E. (1991)  Teori-teori Kepribadian. Bandung : PT Eresco.
Masrun. (1977) Aliran-aliran Psikologi.Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Senin, 27 Maret 2017

sejarah ilmu jiwa



SEJARAH ILMU JIWA

Sejarah adalah gambaran tentang apa yang dilakukan manusia pada masa lalu. Jadi obyek sentralnya adalah manusia. Inti yang dibicarakan antara lain: Siapakah dia, perbuatan dan tindakan apa yang pernah dilakukan, bagaimana pandangannya dengan segi tertentu secara menonjol pernah diperankan, ada kejadian apa saja ketika peran itu terjadi, bagaimana keadaan situasi yang mengitarinya, lalu interpretasi tokoh tersebut terhadap lingkungan di mana ia berada dan akhirnya tafsir serta penjelasan dari penulis sejarah sendiri. Inilah hal-hal yang seharusnya diperhatikan oleh para peneliti dan penulis sejarah, jika hendak menghasilkan karya sebaik yang dapat ia lakukan.
 Ada tiga tokoh ilmu pendidikan pada zaman dulu yaitu : Socrates, Plato dan Aristoteles. Mereka pada zamannya memiliki keahliaan misalnya ahli dalam ilmu politik, ilmu agama, ilmu kebudayaan, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan masih banyak lagi. Materi sejarah yang dimuat dalam uraian pada bab ini difokuskan dalam hal-hal yang berkaitan langsung dengan bidang ilmu jiwa perkembangan yaitu tentang keadaan dan tingkah laku manusia , khususnya yang tengah berkembang dalam kerangka dibidang pendidikan. Jadi intinya manusia dengan berbagai kodrat alamiahnya untuk berkembang yang kesemuanya ini diteliti dan dicatat secara sistematis dan catatan tersebut kemudiaan dipergunakan sebagai pangkai tolak atau bahan pertimbangan bagi usaha pendidikan.
Selanjutnya ada satu hal,tetapi amat penting dalam dunia sejarah yakni tentang “obyektivitasnya”. Oleh karena, obyektivitas telah menjadi kesepakatan para ahli agar senantiasa terjaga dikalangan peneliti dan penulis sejarah. Penulis beranggapan, bahwa pemaparan sejarah tidak bias subyektif mungkin. Disebabkan sering terjadi unsur kekuatan dan kekuasaan, mempengaruhi terciptanya kejernihan nilai sejarah. Ini membuktikan bahwa siapa yang kuat dan berkuasa dapat mempengaruhi haluan suatu sejarah. Pengertian “kekuatan dan kekuasaan“ bisa bermacam-macam. Kekuatan dan kekuasaan itu berwujud dominasi dibidang ilmu pengetahuan. Maksudnya suatu bangsa atau kelompok yang memiliki keunggulan dibidang ilmu, hal sejarah ilmu jiwa perkembanganya pun, kita akan menjumpai sederet tokoh dan pendapat mereka,yang sebagian besar terdiri dan ditulis menurut versi orang-orang bangsa barat.
Pembagian zaman (periodesasi) sejarah ilmu jiwa perkembanganya.Periode yang paling awal yakni zaman Yunani dan Romawi kuno, dan diakhiri dengan menggambarkan keadaanya dizaman modern ini. Karena sistematika pembagian tersebut memang bervariasai, maka kemungkinan yang bias ditangkap dan dipahami para pembaca juga berbeda-beda pula antara seorang dengan orang lain. Bagi penyusun tulisan ini, yang lebih perlu diutamakan ialah bahwa pembagiaan sebagai dimaksud hendaknya berkesinambungan antara satu periode (zaman) dengan periode berikutnya. Atau jangan sampai ada periode yang terputus sedemikian jauhnya, sehingga mengundang tanda tanya dikalangan pembaca. Misalnya diuraikan sejarah ilmu jiwa perkembangannya pada zaman Yunani dan Romawi kuno sekitar 450 sebelum Masehi sampai zaman Augustinus yang wafat tahun 430 M ,lalu meloncat kepada zaman Renaissance pada sekitar tahun 1300 M terus sampai pada keadaan dizaman Modern dewasa ini.orang pun jadi bertanya : Kenapa terjadi tenggang waktu kosong hampir 900 tahun lamanya ? Periode sejarah ilmu jiwa perkembangan dalam karangan ini dibagi menjadi 5, yaitu:
Ø  Zaman Yunani dan Romawi Kuno
Ø  Zaman tersebarnya agama Nasrani
Ø  Zaman islam di Timur Tengah
Ø  Spanyol, zaman Renaissance
Ø  Zaman Modern
     Lebih jelasnya , masing-masing periode hendak diuraikan satu persatu sebagai berikut:
A.        Zaman Yunani dan Romawi Kuno
Dikatakan “ Kuno “,sebab zaman itu telah berlalu lama sekali, lebih dari 2.000 tahun yang silam. Zaman ini sebagai titik mulanya karena pada saat itu dikedua Negara tersebut muncul sejumlah tokoh pemikir yang telah melahirka “filsafat “.Dari filsafat itu asal usulnya ilmu tentang manusia ,ilmu pendidikan dalam kerangka upaya meningkatkan mutu kehidupan manusia, menyusul bagian dari pendidikan yaitu Ilmu jiwa, dan dari ilmu jiwa ini salah satu cabangnya adalah ilmu jiwa perkembangan. Fokus perhatian kita adalah menelusuri pendapat dan pandangan para imuwsan masa lalu ,mengenai manusia, khususnya yang masih barada dalam proses perjalanan hidup menuju tingkat kedewasaan. Yang kita cari adalah pandangan para ahli tentang manusia yang tengah berkembang.Yang menjadi pokok kajian sejarah ilmu perkembangan,dalam periode ini adalah pandangan para ahli disekitar kehidupan anak. Misalnya apakah anak itu menurut mereka berbeda dengan orang dewasa? Jika berbeda dalam hal apa saja ?

Tokoh-tokoh ilmu pengetahuan pada zaman Yunani dan Romawi Kuno antara lain :
1.  Socrates (469- 399 )  terkenal sebagai filosuf besar bangsa Yunani, yang memandang amat  penting kedudukan “moral” bagi kehidupan manusia. Ia merumuskan pendapat bahwa manusia memiliki akal. Dengan akal manusia berpikir, dengan berpikir bisa menghasilkan pengetahuan. Jadi pengetahuan adalah kebajikan atau usaha mengembangkan daya piker manusia, tetap daya piker manusia baru sempurna ketika telah mamasuki usia dewasa.Bagi Socrates anak kecil pun sudah memilki daya piker yang sempurna.

          2.  Plato (427- 347 SM)
Plato berpendapat akal pikiran adalah posisi yang utama dalam kehidupan  ma  nusia.Menurutnya dengan akal pikiran seseorang dapat mencapai tingkat kebenaran yang hakiki.Menurut Plato manusia memiliki 3 kekuatan jiwa, yaitu : pikiran yang terletak di kepala, kemauan /kehendak yang terletak didalam dada, dan nafsu keinginan yang berada dalam perut. Teori tentang 3 kekuatan jiwa tersebut di kenaldenganistilah“richotomi”.                                                                                                                                        
Plato tidak mengakui eksistensi panca indera manusia karena manusia hidup dengan pikiran, kemauan, dan nafsu bukan dengan panca indera. Plato menentukan standar penempatan berdasarkan tingkat usia seseorang yaitu umur 10 tahun untuk golongan pekerja, umur 20 tahun untuk golongan militer dan umur 30 tahun untuk golongan pemimpin.

           3.  Aristoteles (384- 322 SM )
Aristoteles adalah murid plato.Ia mempercayai adanya panca indera.Ia mengatakan bahwa hakikiat segala yang maujud terletak pada benda-benda yang tampak oleh panca indera. Bagi Aristoteles ada 3 jenis makhlik hidup yang memiliki jiwa, yaitu :
Ø  Jiwa tumbuh-tumbuhan (Anima vegetativ) adalah tingkat terendah yang fungsinya terbatas pada kempampuan untuk makan dan berkembang biak saja.
Ø  Jiwa hewan ( Anima Sensitiva ) fungsinya adalah kemampuan menggunakan indera dan nafsunya untuk bergerak dan berbuat ,disamping kemampuan makan dan berkembang biak.
Ø  Jiwa manusia (Anima Intelektiva ) fungsinya untuk berpikir dan berkehendak. Teori ini disebut “dichotomi”

          4.   Quintilianus (35 – 100)
Ia dikenal sebagai ahli pidato  (orator) dan pemikir yang kreatif. Ia menginginkan, agar setiap anak nantinya menjadi orator yang baik. Untuk menjadi orator yang baik anak-anak harus memiliki : 
1.      Pengetahuan akan benda-benda
2.      Pembendaharaan kata yang cukup dan kecakapan memilih kata-kata   yang baik.
3.      Keramahan dan berlagak orang kota
4.      Pengetahuan akan sejarah dan umum
5.      Ingatan yang baik.
     
    5.  Plutarchus  (50 – 124 SM)
Pokok-pokok pandangannya tentang anak, antara lain sebagai berikut :
1)      Bagi seorang anak keluarga adalah lingkungan yang palinh utama.
2)      Setiap anak hendaknya dibiasakan berbuat nenurut kaidah-kaidah kesusilaan.
3)      Ingatan amat penting bagi kehidupan manusia ,karena melatih daya ingatan anak.
4)      Tidak setuju adanya hukuman badan yang dijatuhkan kepada anak-anak.
5)      Pentingnya usaha pembinaan jasmani anak-anak.

B.   Zaman Tersebarnya Agama Nasrani
Soemadi soerjabrata membagi zaman tersebarnya agama Nasrani menjadi 2 periode : lima abad yang pertama saat agama Nasrani berada pada masa permulaan dan abad pertengahan . Pada periode pertamalah melahirkan pemikiran tentang kehidupan anak-anak. Pada masa ini muncul seorang tokoh yang bernama Augustinus (354 – 430 M).Soemadi Soerjabrata memberi komentar bahwa pendapat tentang kanak-kanak pada masa ini memang terpengaruh oleh pokok-pokok pikiran kenasraniaan yang antara lain :
1)      Tujuan pendidikan ialah kemanusiaan ,menghormati kepribadiaan manusia dan hak    perseorangan.
2)      Pendidikan bersifat demokratis dan universal meliputi pendidikan sosial, kesusilaan, dan keagamaan.
3)      Metode pendidikan meliputi apperserpsi, aktivitas.

C.   Zaman Islam di Timur Tengah dan Spanyol
Yang dimaksud ialah zaman kemajuan yang pernah dicapai dunia islam pada masa lampau. Dr. Harun Nasution menyebutkan zaman periode klasik dalam sejarah islam (650- 1250 M ). Zaman ini di pandang sebagai penghubung antara zaman sebelumnya dengan zaman renaissance yang akan datang sesudahnya.kemajuan pemikiran di dunia barat yang menuju tersusunnya ilmu jiwa perkembangan tidak terlihat nyata.Bahkan menurutnya pula apa yang telah dirintis oleh Agustinus menyertai zaman tersebarnya.Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban pada abad pertengan memang berada di dunia timur. Dalam zaman ini pemikiran tentang manusia tentunya di pengaruhi oleh konsep manusia itu pada dasarnya memiliki bakat dan pembawaan masing-masing, yang kelak mempengaruhi prestasi hidup yang akan mereka capai.
Pada masa pemerintahan Nabi Muhammad kepala pemerintahan islam dipegang oleh empat orang kholifah di Madinah yaitu :Abu Bakar (632-634 M),Umar (634-644M),Utsman (644-656M),dan Ali (656-661M).Diantara empat orang kholifah itu Umar bin Al-Khattob termasuk yang tercatat banyak memperhatikan kehidupan anak-anak.Setelah zaman Kholifah yang ke-empat (Khullafahur rosyidin),Pusat pemerintahan islam pindah ke Damaskus dibawah kekuasaan Daulah Umayyah (661 – 750 M), kemudian diganti oleh Daulah Abbasiyyah (750- 1258 M) dengan Baghdad sebagai ibukotanya.
Pada zaman terakhir inilah ilmu peradaban islam mencapai puncak keunggulan.Dalam sejarah pendidikan islam yang paling banyak dikutip pendapatnya adalah : 1. Ibnu Sina (980- 1037 M ) Menurut Ibnu Sina bahwa seorang anak adalah amanat yang dipercayakan oleh Allah SWT.Dalam Hadist nabi Muhammad “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci,tetapi ibu bapaknya lah yang menjadiakan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.Tetapi dilain pihak, dalam islam juga terdapat ajaran takdir, yaituketentuan yang telah pasti atas setiap manusia tentang sifatnya ,pembawaan, bakatnya, sampai pada soal kebagiaan dan celakanya seseorang. Ibnu Sina juga menyatakan hendaknya instink anak-anak diperhatikan sebagai landasan dalam pendidikan.

Al Ghazali (1058- 1111 M)
Menurut B.B.Mac.Donald, Al-Ghazali adalah seorang tokoh islam yang termansyur.Beliau banyak menulis ,satu diantara karyanya adalah “Ihya’Ulumuddin”. Menurut Al-Ghazali seorang anak harus diperlakukan sebaik mungkin dalam proses pelayanan pendidikan.Dalam hal watak dasar seorang anak dimasa kecilnya, Al-Ghazali menyatakan : Setiap anak dapat menerima yang baik dan yang buruk. Anak dilahirkan dalam keadaan baik dengan pembawaan yang baik pula, tetapi lingkungannyalah yang kadang menjadikannya dalam perawatan instink serta pembawaan si anak.

D.   Zaman Renaissance
Kata “ renaissance” berarti “ hidup kembali”. Zaman renaissance ,maksudnya zaman kehidupan atau kebangkitan kembali.Dimana kehidupan atau kebangkitan kembali itu terjadi? Yang hidup dan bangkit kembali adalah pemikiran, ilmu pengetahuan, dan peradaban di dunia Barat.Jadi mereka bangkit kembali untuk menyusun kekuatan dibidang ilmu dan teknologi,setelah sekian lama ketinggalan dari kemajuan yang dicapai bangsa Timur.Zaman renaissance adalah zaman kebangkitan kembali dunia Barat dalam ilmu peradaban termasuk pula kebangkitan pemikiran terhadap eksistensi anak-anak. Zaman ini ditandai dengan munculnya beberapa gerakan seperti :

  1. Humanisme berarti kemanusiaan, menurut istilah berarti suatu paham (filsafat) mengenai kemanusiaa yang hakiki. Jelasnya Humanisme adalah suatu gerakan atau aliran yang bertujuan untuk menempatkan manusia pada posisi kemanusiaan yang sebenarnya. Tokoh-tokoh gerakan humanisme antara lain :Petrarcha(1304- 1374), Boccaccio (1313- 1375), Vittorins Da Felter (1378- 1446), Thomas A. Kempis (1380- 1471), Desiderius Erasmus(1466-1536), dan Chrysoloras (1350- 1415).
  2. Reformasi artinya menyusu kembali .Secara istilah adalah gerakan pemisahan diri atau keluar dari agama Kristen-Katolik untuk kemudian mendirikan dan bergabung kedalam agama baru Kristen-Protestan.Tokoh utama gerakan ini adalah Martin Luther (1383- 1546) . Dalam hubungannya dengan ilmu jiwa perkembangan, aliran ini menghendaki agar anak-anak yang masih kecil diperlakukan dan dihadapi dengan cara yang berbeda dari mereka yang sudah besar.Aliran reforamasi ini menggunakan metode pendidikan. Tujuan pendidikan ini ialah mempersiapkan bagi kehidupan kini dan kehidupan kelak dialam baka,menghormati serta mengabdi kepada Negara dan gereja,memenuhi tugas-tugas keluarga,negara maupun gereja.
  3. Kontra reformasi Gerakan ini mempertahankan diri dari ancaman kaum reformist yang pada akhirnya telah membawa pengikutnya kearah pengertian yang lebih mendalam tentang manusia dan tentang kodrat kanak-kanak pada khususnya.
  4. Realisme adalah aliran yang mendasarkan diri pada sesuatu yang telah diketahui sungguh-sungguh nyata adanya. Dalam bidang pendidikan, kaum realime berpendapat bahwa pendidikan harus berkaitan dengan kenyataan kehidupan yang sebenarnya dalam segala segi yang ada. Dalam tubuh realism timbul 3 aliran lagi yaitu :

1. Realisme Verbal
Aliran ini disebut juga realism humanistis, maksudnya dalam ucapan verbal mereka mengaku sebagai pengikut realism, tetapi dalam prakteknya mereka tetapi dalam prakteknya mereka tidak dapat melepaskan diri secara tuntas dari konsepsi humanism. Aliran ini bertujuan mengetahui dan memahami benar-beanr masyarakat kemanusiaan sebagaimana adanya. Dalam aliran verbal ada 3 orang tokoh yang terkemuka:
Jean Luis Vives  (1492-1540 )
Ia berpandangan bahwa setiap anak mempunyai bakat, minat, dan kekhususan   individual masing-masing yang berkembang.

Francois Rabelais  (1483- 1553 )
Menurutnya setiap anak dilahirkan dengan potensi yang lengkap meliputi jasmani, akal dan segala minat kecenderungannya.Semua ini akan berkembang jika memperoleh kesempatan pendidikan.

John Milton  (1608- 1674 )
Menurutnya seorang anak harus dipersiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi kepentingan hidupnya di dunia.

2. Realisme Sosial
Tokohnya  adalah seorang ilmuwan dari Perancis yaitu Michel De Montaigne (1530-1592 ) pendapatnya bahwa seorang anak itu bias atau bahkan harus diarahkan,agar   kelak menjadi orang besar, orang yang terpandang dimasyarakat. Anak-anak harus memperoleh pengalam sendiri tentang masyarakat dan bukan hanya sekedar membaca dari buku.

3. Realisme Ilmiah
Aliran ini disebut relisme sensus, yang sekaligus merupakan puncak dari kegiatan kaum realist dalam usaha menyelidiki segala realita yang ada. Tetapi aliran ini tidak mencari realita sebagaimana terdapat dalam buku-buku (verbal),tidak pula mencari realita sebagaimana dialami dalam hubungan antar manusia sehari-hari (sosial), melainkan berusaha mencari realita yang paling pokok, yaitu kenyataan yang terdapat dalam kekuatan dan hukum alam. Dalam bidang perkembangan, ilmu jiwa perkembangan tokoh-tokoh realism ilmiah antara lain :

Richard Mulcaster (1531- 1611)
Menurutnya dunia kanak-kanak sangat penting untuk dipelajari untuk mengetahui kemampuan-kemampuan kodratinya.Setelah kemampauan yang diwarisi anak itu diketahui,maka selanjutnya harus dihormati,karena tujuan pendidikan justru membatu dan mengembangkan kodrat anak-anak agar mencapai taraf kesempurnaan.

Francis Bacon (1561- 1626)
Menurut Bacon, anak-anak secara kodrati mempunyai kemampuan untuk kelak menguasai alam.Alam bias dikuasai dengan ilmu pengetahuan sedang ilmu pengetahuan diperoleh melalui pendidikan.

Wolfgang Ratke (1571- 1636)
Menurutnya jiwa itu berkembang secara teratur, mirip dengan perkembangan ala mini dari masa ke masa. Keteraturan juga harus dijaga kelestariaanya di dalam proses pendidikan.

Johann Amos Comenius (1592- 1670)
Menurutnya sekolah yang sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa anak dibagi menjadi :
1) Scola Materna = anak-anak umur 0 – 6 tahun
2) Scola Vernacula = umur 6 – 12 tahun
3) Scola Latina = remaja umur 12- 18 tahun
4) Scola Academia = dewasa awal umur 18- 24 tahun.

e)  Disipliniarisme
Disiplinarianisme sebagai pertahanan baru daripada aliran humanisme klasik terhadap serangan kaum realism. Tokoh utamanya adalah John Locke (1632- 1704), ahli pendidikan dari Inggris. Dalam teorinya “tabularasa” menyatakan bahwa jiwa seorang anak pada dasarnya bersih seperti kertas putih yang bias digambar menurut kehendak orang dewasa yang mendidiknya. John Locke dipandang telah menghidupkan kembali formalisme scholastic.


f)   Rasionalisme
            Aliran ini dipelopori oleh Francis Voltaire (1694- 1778), seorang pemikir dari perancis. Semula rasionalisme lahir sebagai protes terhadap kekuasaan Gereja dan Negara di daerah Eropa,tetapi ia berusaha menonjolkan peranan akal ,lebih dari segala aspek kejiwaan yang lain. Para ahli kemudiaan menilai kedua aliran ini sebagai telah mengundurkan kembali perjalanan sejarah ilmu jiwa perkembangan.

g)   Naturalisme 
                    Nature artinya tabiat, alam, atau pembawaan.Naturalisme adalah aliran yang menghendaki agar kodrat alamiah setiap anak dihormati.Aliran ini berpendapat, setiap anak harys dibiarkan berkembang menurut kodratnya masing-masing.Tokoh utama aliran ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712- 1778).Salah satu buku karyanya ialah yang memuat pembagiaan fase kehidupan manusia menjadi :
Umur 0 – 2 tahun masa asuhan
Umur 2 – 12 tahun masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera
Umur 12 – 15 tahun masa pendidikan akal
Umur 15 – 20 tahun masa pembentukan watak dan pendidikan agama.

Pendidikan harus dilaksanakan selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak. Rousseau mengemukakan 3 prinsip yaitu : prinsip perkembangan, prinsip aktivitas murid, dan prinsip individualisasi.

E.   Zaman  Modern
      Soemardi Soerjabrata membagi masa-masa pada zaman modern antara lain :
       1.  Tahun  1750 – 1800
a. Aliran Philanthropinisme
adalah aliran yang timbul sebagai gabungan dari beberapa teori yaitu   tabularasa, optimism, rasionalisme dan naturalisme.Timbulnya aliran ini berkaitan erat dengan gerakan aufklarung yaitu suatu usaha penjernihan akal menuju terbentuknya individu yang bahagia. Tokoh-tokohnya :


1)      Johann Bernhard Basedow (1723 – 1790)
2)      Frederik Eberhard Von Rachow (1734 – 1805)
3)      Christian Cotthilf Salzman (1744 – 1811 )
4)      Rachim Heinrich Campe (1746 – 1818 )
5)      Guts Muths  (1759 – 1839 )

b. Aliran Developmentalisme
Aliran ini dipelopori oleh seorang ahli pendidikan (1746 – 1827). Menurutnya dalam setiap aktivitas pendidikan, kedudukan anak-anak adalah sebagai pusat pendidikan yang akan berkembang pada diri anak

c. Lahirnya Ilmu Jiwa Perkembangan
Seorang tokoh dari jerman. Dietrich Tiedemann (1748- 1803) tercatat sebagai orang pertama yang menghasilkan karya tulis yang teratur dalam bidang ilmu jiwa perkembangan.Pada tahun 1787, ia mengadakan penelitian .Hasil penelitian itu kemudiaan disiarkan dalam sebuah buku yang berjudul : Pengamatan Mengenai Perkembangan Bakat Kejiwaan Kanak-kanak. Atas jasanya tersebut Tiedemann dipandang sebagai orang pertama yang meletakkan tonggak pertanda awal kelahiran ilmu jiwa perkembangan dalam kedudukannya sebagai ilmu yang telah mempunyai bentuk yang jelas.

2.   Tahun  1800 – 1850
Dipelopori oleh Friederich Wilhelm Frobel (1782 – 1852). Namanya terkenal karena usaha Frobel mendirikan “Kindergarten  (Taman Kanak-kanak)“ maksudnya untuk mendidik anak sebelum masuk sekolah tingkat dasar. Dalam tingkat pendidikan Frobel menggunakan permainansebagai usaha mengembangkan pribadi anak didiknya. Frobel berpendapat bahwa terbentuknya segala sesuatu di alam ini, termasuk didalamnya kodrat dan kecenderungan anak-anak berkembang adalah pencerminan dari rencana penciptaan dan kekuasaan Tuhan.

3.   Tahun  1850 -1900
      a.  Dari Jerman muncul 5 orang tokoh ilmu jiwa perkembangan :
1.      Johann Friederich Herbart (1776 – 1841)
Ia berpendapat bahwa kehidupan jiwa anak itu berjalan secara teratur seperti bintang-bintang di langit.
2.      L. Strumpell (1812 – 1897)
3.      Wilhelm preyer (1842 – 1897)
            Dikenal sebagai “bapak ilmu jiwa kanak-kanak” Karena pada tahun 1882 Preyar menerbitkan “Die Seele des Kindes” yang berisi hasil penelitian terhadap anak sendiri.Metode yang digunakan adalah observasi sistematis, eksperimen dan perbandingan dengan hewan.
4.      Wilhem Wundt (1832 – 1920)
              Menurut Wundt manusia sebagai subyak tingkah laku kejiwaan selalu bersifat aktif, tidak hanya pasif sebagai wadahnya saja. Wundt dijuluki sebagai “bapak psikologi eksperimentil”.
5.      E. Meumann (1862 – 1915)

b.  Dari Amerika Serikat ada 2 yang berjasa dalam kemajuaan ilmu jiwa perkembangan yaitu :
1) William James (1842 -1910)
Teorinya tentang reaksi anak-anak terhadap rangsangan dari luar, baik yang dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya mendorong semakin majunya dunia psikologi.

2) Stanly Hall (1846 – 1926 )
Pada tahun 1811, Hall dikenal sebagai orang pertama dari Amerika Serikat yang mendirikan laboratorium psikologi.Ia mengajarkan kepada para mahasiswa tentang perbedaan pendekatan antara ilmu jiwa murni dengan ilmu pendidikandalam usaha menyelidiki anak-anak.

c.  Dari Inggris
1)      Charles Darwin (1809 – 1882)
2)      Herbert Spencer (1820 – 1903)
3)      Francis Galton (1822 – 1911)
4)      J. Sully (1893), Ia mendirikan perkumpulan yang bergerak dalam studi penelitian terhadap kehidupan anak-anak “Studies in Chilidhood”

d.   Dari Perancis
1)      E. Seguin (1852 – 1880)
2)      Hipp Taine (1828 – 1893)
3)      Alfred Binet (1857 – 1911)

4.    Tahun 1900 - 1950
a. Tokoh-tokoh Penghubung          
Ada 3 tokoh yang berkarya pada awal abad ke 20 yaitu :
1)      Ernest Meumann (1862 – 1915 )
2)      Alfred Binet (1857 – 1911)
3)      James Mark Baldwin (1864 – 1934)

b.  Pengaruh dari aliran dan ilmu yang lain
1. Pengaruh Evolusionisme
Menurut kaum evolusi yang dipelopori oleh H. Spencer bahwa masyarakat manusia berkembang secara bertahap.Mulanya dari tingkat pengembara menjadi petani terus pedagang dan akhirnya menjadi masyarakat industry yang maju.

2. Pengaruh Sosiologi
Baldwin, Wallon, Piaget berpendapat bahwa perkembangan seorang anak tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan sosial.
3. Pengaruh Psikologi Eksperimental
4. Pengaruh Psikologi Testing
5. Pengaruh Psikologi Ubnormal
6. Pengaruh Psikologi Hewan

c.  Aliran-alairan dalam ilmu jiwa perkembangan.
1. Aliran fungsional
E. Claparede (1905 – 1946), adalah pelopor utama aliran ini.Perbedaan antarkanak-kanak dengan orang dewasa sesungguhnya hanya bersifat kualitas saja, anak-anak lebih sederhana dalam hal fungsi-fungsi jiwa mereka daripada orang dewasa.

2.  Aliran Personalistis
Tokoh utamanya adalah William Stern (1914 – 1935) berpendapat bukannya   unsure yang menjadi titik pangkal perkembangan jiwa ,malainkan kesatuan kehidupan pribadi yang bekerja sendiri.

3. Aliran Biologistis
Tokohnya adalah Maria Montessori (1870 – 1935). Menuruitnya setiap fase perkembangan itu mempunyai arti biologis artinya perkembangan jiwa tidak dapat dimengerti sebagai perkembangan fungsi-fungsi yang tak saling mempengaruhi satu sama lain, melainkan harus dipahami sebagai perwujudan dari suatu rencana kehidupan dimana kekuatan jasmani dan rohani seorang anak berada dalam struktur yamng amat beraturan sehingga membentuk jiwa yang bersifat definitive(tetap).

4. Aliran pikir
Tokoh utamanya ialah Karl Buhler (1919 -1949), menurutnya dalam perkembangan kanak-kanak tak boleh dilupakan soal “pikiran” nya.Ada 3 fase perkembangan yaitu: instink, latihan (dressuur & drill), dan intelegensi (akal & pikiran

5. Aliran Gestalt
Menurut aliran ini ,perkembangan tidak lain adalah proses differensasi. Jadi gestalt intinya adalah dari keseluruhan menuju bagian-bagian yang lebih terperinci dari keseluruhan itu.

6.  Aliran Sosiologis
Perkembangan anak itu terutama dipengaruhi oleh lingkungan sosial ,jadi aliran ini menekankan peranan sosial (orangtua, keluarga, guru, tema ) dalam menentukan berhasil atau tidak nya perkembangan seorang anak.

7. Aliran psikologi dalam
Berusaha menganalisis jiwa seseorang yang berada dibawah sadar, mencari penyelesaian atas kesulitan-kesulitan psikis seseorang yang sedang mimpi.

8. Aliran filosofis
Tokoh aliran ini antara lain R. Hubert (1949) berpendapat bahwa perkembangan seorang anak mempunyai makan filsafat.

9. Aliran fenomenologi dan ekssistensialisme
M. Merleau Ponty berpendapat bahwa kanak-kanak bisa mengalami iri hati ketika lahir adiknya.

10.  Aliran Behaviourisme
J.B Watson (1920 – 1927), adalah tokoh utama aliran ini. Menurutnya anak yang baru lahir itu hanya memiliki beberapa refleks dan 3 macam emosi : takut, marah dan cinta.

d.   Tokoh utama paling akhir
1)      J.L Moreno berpendapat ada kesempatan bagi setiap anak untuk memilih sendiri  jalan perkembanganya.
2)      Jean Piaget berpendapat bahwa pada  setiap anak ada 2 faktor: pengenalan dan perasaaan. Keduanya berguna untuk penyesuaiaan rohani terhadap lingkungan.