SOFTSKILL
: TUGAS Ke- I
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
NAMA
: Mislia Ainun Nisa
NPM
: 16514674
KELAS
: 2 PA 17
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2014
/ 2015
I
KONSEP
SEHAT
A.
Orientasi
Kesehatan Mental
a.) Definisi
Kesehatan Mental
Dalam
mendefinisikan kesehatan mental, sangat dipengaruhi oleh kultur dimana
seseorang tersebut tinggal. Apa yang boleh dilakukan dalam suatu budaya
tertentu, bisa saja menjadi hal yang aneh dan tidak normal dalam budaya lain,
dan demikian pula sebaliknya (Sias,
2006). Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu
keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya
sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat
menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah
dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki
kebahagiaan dalam hidupnya. Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa
terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu:
1. karena
tidak mengalami gangguan mental
2. tidak
jatuh sakit akibat stessor
3. sesuai
dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya
4. tumbuh
dan berkembang secara positif.
b.) Konsep
Sehat
Secara umum,
pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang
dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini dimaksudkan bahwa kesehatan
merupakan tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme
dari suatu organisme dan juga termasuk manusia. Kesehatan dapat juga
diartikan keadaan sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial dan ekonomis.
Menurut Undang-Undang, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,
jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomis.
Pada tahun 1986,
WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah
sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup. Kesehatan adalah
konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan
fisik. Seseorang dikatakan sehat apabila ia memiliki tubuh jasmaniah yang
sehat, tidak berpenyakit, gizi yang baik, psike
(mental) rukhaniyah yang tenang, tidak gelisah, mempunyai kedudukan sosial yang
baik, mempunyai kehidupan dan rumah berlindung, serta dihargai sebagai manusia (WHO,1984). Di dalam artikel ini saya
akan menjelaskan konsep kesehatan berdasarkan dimensi emosi, intelektual,
sosial, fisik, dan spiritual.
c.) Konsep
Sehat Menurut Dimensi
1. Dimensi
Emosi, yaitu dimensi yang meihat dari bagaimana reaksi emosinya
seperti menangis, sedih, bahagia, depresi, optimis. Kesehatan
Emosional/Afektif dilihat dari kemampuan mengenal emosi dan mengekspresikan
emosi tersebut secara tepat.
2. Dimensi
Intelektual yaitu dimensi yang melihat bagaimana seseorang berfikir
dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan
pertimbangnnya. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan
pikiran
3. Dimensi
Sosial yaitu dimensi yang melihat dari tingkah laku manusia dalam kelompok
sosial, keluarga dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan
pengendalian tingkah laku. Kesehatan Sosial dapat dilihat dari kemampuan
untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, perilaku kehidupan
dalam masyarakat.
4. Dimensi
Fisik merupakan dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau memiliki
dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan
mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak
merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif
tidak tampak sakit.
5. Dimensi
Spiritual dilihat dari kepercayaan dan praktek keagamaan. Kesehatan
spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai kedamaian
hati.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
II
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
I.
Aliran
Psikoanalisis
Menurut Erikson, perkembangan manusia melewati suatu
proses dialektik yang harus dilalui dan hasil dari proses dialektik ini adalah
salah satu dari kekuatan dasar manusia yaitu harapan, kemauan, hasrat,
kompetensi, cinta, perhatian, kesetiaan dan kebijaksanaan. Perjuangan di antara
dua kutub ini meliputi proses di dalam diri individu (psikologis) dan proses di
luar diri individu (sosial). Dengan demikian, perkembangan yang terjadi adalah
suatu proses adaptasi aktif. Remaja menurut Erikson, memiliki dua kutub
dialektik yaitu Identitas dan Kebingungan . Salah satu dari pencarian individu
dalam tahapan ini yaitu pencarian identitas dirinya dengan menjawab satu
pertanyaan penting yaitu “Siapa Aku?”. Bila individu berhasil menjawabnya akan
menjadi basis bagi perkembangan ke tahap selanjutnya. Namun, apabila gagal,
maka akan menimbulkan kebingungan identitas di mana individu tidak berhasil
menjawab siapa dirinya yang sebenarnya. Apabila seorang individu tidak berhasil
menemukan identitas dirinya, maka ia akan sulit sekali mengembangkan keintiman
dengan orang lain terutama dalam hubungan heteroseksual dan pembentukan
komitmen seperti yang terdapat dalam pernikahan.
II. Aliran Behavioristik
Pendekatan behaviorisme
merupakan perspektif tentang karakteristik alamiah manusia dan
strategi ilmiah untuk mempelajari
individu. Pendekatan teori pembelajaran behavioristik
terhadap kepribadian memiliki dua asumsi dasar, yaitu:
terhadap kepribadian memiliki dua asumsi dasar, yaitu:
1. Perilaku
harus dijelaskan dalam kerangka pengaruh kausal lingkungan terhadap diri orang
tersebut.
2. Pemahaman
terhadap manusia harus dibangun berdasarkan riset ilmiah objektif dimana variabel
dikontrol dengan seksama dalam eksperimen laboratorium. Menurut pandangan
behavioristik,
individu bertindak karena kekuatan lingkungan yang menyebabkan ia melakukan hal
tersebut. Perilaku bersifat responsif terhadap variabel penguatan dalam lingkungan
dan lebih tergantung pada situasi. Behavioris menyadari bahwa individu memiliki
pikiran dan perasaan, akan tetapi pikiran dan perasaan tersebut sebagai
perilaku yang juga disebabkan oleh lingkungannya. Kepribadian menurut pandangan
ini merupakan pola deskriptif pengalaman psikologis yang pada kenyataannya
diakibatkan oleh lingkungan. Jadi dapat disimpulkan untuk membentuk suatu
kepribadian yang sehat harus ditunjang dengan lingkungan yang sehat pula.
III.
Aliran
Humanistik
Kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk
mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja
mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar
sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Ciri dari
kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau
individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi
diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena
setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala
sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan
kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli
psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus
dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia
juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang
secara potensial menghambat.
IV.
Pendapat
Allport
Allport pada dasarnya mempunyai pandangan yang
optimistik dan penuh harapan mengenai kemanusiaan ia menolak pandangan
psikoanalisis dan behaviorisme mengenai kemanusiaan karena di anggap terlalu
dereministik dan mekanistik.ia yakin bahwa takdir dan karakter kita tidak di
tentukan oleh motif tidak sadar yang berasal dari awal masa kanak-kanak,namun
oleh pilihan yang disadari,yang kita buat di masa sekarang. Kita bukanlah
sesuatu yang bersifat otomatis,yang bereaksi secara sembarangan terhadap
dorongan-dorongan dari sistem penghargaan dan hukuman.malah kita mampu
berinteraksi dengan lingkungan kita dan membuatnya menjadi reaktif terhadap
kita.kita tidak hanaya mencari cara untuk menurunkan tekanan,tetapi juga untuk
mempertahakan tekanan-tekanan baru,kita menginginkan perubahan dan tantangan
serta bersifat aktif, bertujuan dan fleksibel.
V.
Pendapat
Rogers
Rogers memusatkan perhatiannya pada penelaahan
cara-cara individu memandang masa kecilnya. Secaranya penghargaan yang
diterimanya positif, tanpa syarat, maka akan terjadi keserasian antara organism dan self. Secara psikologis individu akan dapat menyesuaikan diri, dan
berfungsi penuh. Pengalaman yang akan dipandang tidak disetujui (tidak
berharga), akan dikeluarkan dari self
concept. Si anak akan mencoba berbuat sebagaimana tuntutan lingkungannya,
dan tidak akan berbuat bagaimana menurut dirinya. Untuk melindungi integritas self concept, pengalaman yang tidak
berharga tersebut diingkari, atau dibuat simbol yang menyimpang.
Mengingkari pengalaman itu berarti memalsukan realitas, baik dengan mengangap
gambaran tersebutu tidak ada, atau dengan menyimpangkannya. Orang akan
mengingkari rasa agresifitasnya karena tidak konsisten dengan gambaran diri
sebagai manusia yang tenang, damai, dan ramah. Rogers menganggap bahwa orang
akan menjaga dan memelihara gambaran diri, sekalipun tidak sama dengan realita.
Pada tingkat fisiologis, Rogers tidak membedakan antara manusia yang sehat dan
manusia yang tidak sehat. Tetapi apabila kita memikirkan segi-segi psikologis
dari aktualisasi diri, maka jelas ada perbedaan. Rogers berpendapat bahwa
manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan hasil
dari ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri. Aktualisasi diri
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan
fisiologis. Pemikiran Rogers sangat dipengaruhi oleh Angyal yang menekankan
bahwa ciri khas kehidupan adalah bergerak kearah peningkatan kemandirian,
pengaturan diri sendiri, dan otonomi serta bebas dari kontrol luar. Dalam
menekankan tendensi aktualisasi diri, Rogers menekankan beberapa ide:
1. Tendensi
aktualisasi adalah kekuatan motivasi utama dari organisme manusia
2. Tendensi
aktualisasi adalah fungsi dari seluruh organisme bukan hanya satu bagian dari
organisme
3. Tendensi
aktualisasi merupakan suatu konsepsi motovasi yang luas.
4. Hidup
adalah suatu proses yang aktif dan bukan pasif.
5. Manusia
memiliki kapasitas dan tendensi atau motivasi untuk mengaktualisasikan diri.
VI.
Pendapat
Abraham Maslow
Abraham Maslow mengatakan bahwa kepribadian yang
sehat adalah Individu yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Individu yang
sehat adalah individu yang dapat mengaktualisasikan diri dengan baik dan
imbang, yang artinya mengaktualisasikan diri secara optimal. Mereka dapat
kebutuhan untuk memenuhi potensi-potensi yang mereka miliki dan mengetahui dan
memahami dunia sekitar mereka. Syarat untuk dapat mengaktualisasikan diri
sepenuhnya adalah memenuhi hierarki kebutuhan.
Ø Meta Needs
Meta needs (meta
kebutuhan) merupakan keadaan-keadaan pertumbuhan kearah mana
pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri bergerak. Maslow juga menyebut kebutuhan
tersebut B-values, dan B-values adalah tujuan dalam dirinya
sendiri dan bukan alat untuk mencapai tujuan lain, keadaan-keadaan ada dan
bukan berjuang kearah objek tujuan yang sifatnya khusus. Apabila
keadaan-keadaan ini ada sebagai kebutuhan-kebutuhan dan untuk memuaskan atau
mencapai keadaan tersebut gagal, maka akan menyakitkan, sama seperti kegagalan
untuk memuaskan beberapa kebutuhan yang lebih rendah.
Ø Deficiency Needs
Sedangkan Deficiency
needs, suatu kekurangan kebutuhan dimana individu tak dapat memenuhi
kebutuhannya, kebutuhan yang timbul karena kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan
ini diperlukan bantuan orang lain. Deficiency
need ini meliputi: kebutuhan jasmaniah, keamanan, memiliki dan
mencintai serta harga diri. Dan sifat-sifat dari deficiency needs adalah
ketiadaannya menimbulkan penyakit, keberadaannya mencegah timbulnya penyakit,
pemulihannya menyembuhkan penyakit, dalam situasi tertentu yang sangat kompleks
dan di mana orang bebas memilih, orang yang kekurangan kebutuhan
akan mengutamakan pemuasan kebutuhan ini dibandingkan jenis kepuasan yang lain.
Serta kebutuhan ini tidak aktif, lemah, atau secara fungsional tidak terdapat
pada orang yang sehat.
Ciri-ciri Actualized
People:
1. Mempunyai
persepsi akan kenyataan yang lebih efisien
2. Menerima
dirinya sendiri, orang lain dan alam.
3. Memiliki
spontanitas, kesederhanaan dan kealamian
4. Dalam
kehidupannya mereka melakukan pendekatan yang berfokus pada masalah.
5. Mempunyai
kebutuhan akan privasi.
6. Memiliki
kemandirian.
7. Melakukan
penghargaan dengan cara yang selalu baru.
8. Mengalami
pengalaman-pegalaman puncak.
9. Memiliki
keterikatan sosial.
10. Memiliki
hubungan interpersonal yang kuat.
11. Memiliki
sikap yang demokratis
12. Mempunyai
kemampuan untuk membedakan antara cara dan tujuan.
13. Memiliki
rasa humor yang filosofis.
14. Mempunyai
kreativitas
15. Tidak
memilik enkulturasi yang diharuskan oleh kultur.
VII. Pendapat Erich From
Kepribadian sehat menurut Erich fromm adalah
penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara
kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan
kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya
keinginan untuk mencintai dan di cintai. Fromm telah memberikan suatu
gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat.
§ Orang
yang demikian mencintai sepenuhnya
§ Kreatif
§ Memiliki
kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang
§ Mengamati
dunia dan diri secara objektif
§ Memiliki
suatu perasaan identitas yang kuat
§ Berhubungan
dengan dan berakar didunia
§ Subjek
atau pelaku dari diri dan nasib, dan
§ Bebas
dari ikatan-ikatan sumbang.
Selain itu juga ia menyebut kepribadian yang sehat
yaitu : orientasi produktif, yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian
yang matang dan orang yang mengaktualisasikan diri. Dengan menggunakan kata
“orientasi”, Fromm menunjukan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum yang
meliputi semua segi kehidupan, respons intelektual, emosional, dan sensoris
terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa, di dunia dan juga
terhadap diri. Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan.
Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefinisikan menurut
bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar
semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan
diri dengan masyarakat. Kesehatan psikologis dan mental tidak begitu
banyak merupakan usaha individu jika dibandingkan dengan usaha masyarakat.
Faktornya ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya
kebutuhan-kebutuhan manusia. Suatu masyarakat yang sehat membiarkan
anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain, menjadi produktif, dan
kreatif. Mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektivitas timbulnya
individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.
Referensi:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar