I.
Teori-teori yang delandasi dorongan kreativitas
a. Motivasi Instrinsik untuk
Kreativitas
Setiap individu memiliki
kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya,
dorongan berkembang menjadi matang mendorongkan untuk mengungkapkan dan
mengaktifkan semua kapasitasnya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk
kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan
lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya.
b. Kondisi Eksternal yang
mendorong perilaku kreatif
Menurut pengalaman Rogers dalam psikoterapi,
penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan konstan
timbulnya kreativitas yang konstruktif.
Keamanan Psikologis, ini dapat
terbentuk dengan tiga proses yang saling berhubungan.
• Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala
kelebihan dan keterbatasanya;
• Mengusahakan suasana yang didalamnya evaluasi
eksternal tidak ada;
• Memberikan pengertian secara empatis. Mengenal dan
ikut menghayati perasaan-perasaan, anak-anak, tindakan-tindakanya, dapat melihat
dari sudut pandang anak tetap menerimanya
Kebebasan Psikologis, Permissiveness ini
memberikan pada anak kebebasan dalam berpikir atau merasa sesuai dengan apa
yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan dalam tindakan konkret
perasaan-perasaanya tidak selalu dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat
selalu ada batas-batasnya, tetapi ekspresi secara simbolis hendaknya
dimungkinkan.
II.
Teori-teori yang melandasi proses
kreatif, meliputi:
a.
Teori Wallas
Teori wallas, salah
satu teori yang sampai sekarang banyak dikutip adalah teori walas yang
dikemukakan pada tahun 1926 dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto, 1992)
yang menyatakan bahwa peroses kreatif meliputi empat tahap, yaitu (1)
persiapan, (2)inkubasi, (3)iluminasi, dan (4)Verifikasi. Berabad-abad orang
berupaya menjelaskan apa yang terjadi apabila seseprang mencipta.
Pada tahap pertama,
seseorang mempersiapkan diri utuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir,
mencari jawaban , bertanya kepada orang lain, dan sebagainya.
Pada tahap kedua,
Kegiatan mencari dan menghimpun data/
informasi tidak di lanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap dimana individu
seakan-akan melepaskan diri untu sementar dari masalah tersebut, dalam arti
bahwa iya tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi ‘ mengeramnya’ dalam
alam pra- sadar. Sebagaimana terlihat dari analisis biografi maupun dari
laporan tokoh seniman dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses
timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi
baru berasal dari daerah pra- sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran
penuh.
Tahap ilumunasi adalah
tahap timbulnya “insight” atau “aha- Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau
gangguan baru, beserta proses-proses
psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
Tahap verifikasi atau
evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji teradap
realitas. Disini di perlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan perkataan
lain, proses di veregensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses
konvergensi (pemikran kritis).
b.
Teori Tentang Belahan Otak Kiri dan Otak
Kanan\
Sejak Prof
Roger Sperry, Penerima nobel tahun 1981 melalui penelitian panjangnya
bertahun-tahun mengungkapkan hasil temuannya tentang gelombang otak, maka
paradigma baru muncul dan berkembang. Hipotesisnya telah dibuktikannya sendiri
bahwa setiap aktifitas yang berbeda munculkan gelombang otak yang berbeda pula
temuan ini sungguh-sungguh mengubah cara pandang tentang potensi dan
kreatifitas otak manusia. Hal yang mengejutkan rata-rata otak membagi
kegiatannya secara jelas kedalam kegiatan “otak belahan kiri” (korteks kiri)
dan kegiatan. “Otak belahan kanan” (korteks kanan) saat korteks kanan sedang
aktif , korteks kiri cenderung tenang atau istirahat , demikian sebaliknya.
Kegiatan yang
paling mudah diamati tentang pergantian aktifitas otak adalah saat kita
berjalan. Kaki kanan digerakkan oleh aktifitas otak belahan kiri,saat kaki kiri
bergerak otak belahan kanan mengambil alih. Setiap otak memiliki keterampilan
yang khas dalam urutan kerja yang sangat rapi.
Tugas otak
belahan kanan berhubungan dengan sifat keseluruhan, insitutif, sintesis,
integrasi , emosi, interperson, perasaan, kinestik. Bakat adalah penggaian
terus menerus dan pemanfaatan seluruh kapasitas otak secara bertanggung jawab
untuk mewujudnyatakan sebagai hal yang tidak itu-itu saja, Atau sesuatu yang
sudah terlanjur dicap sebagai bakat yang terbatas.
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi,
selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan.
Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi
mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori
ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih
lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
|
Belahan Otak Kiri
|
Belahan Otak Kanan
|
|
Intelek
Konvergen
Intelektual
Rasional
Verbal
Horizontal
Konkret
Realistis
Diarahkan
Diferensial
Sekunsial
Historikal
Analitis
Eksplisit
Objektif
Suksesif
|
Intuisi
Divergen
Emosional
Metaforik, intuitif
Nonverbal
Vertikal
Abstrak
Impulsif
Bebas
Eksistensial
Multipel
Tanpa batas waktu
Sintesis, holitik
Implisit
Subjektif
Simultan
|
KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
1.
Menjelaskan
Pengertian Keberbakatan dan Kaitannya Dengan Pengertian Kreativitas yang
Meliputi
a.
Pengertian
Keberbakatan
Bakat adalah kemampuan yang
merupakan sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri seseorang,
merupakan bawaan sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Definisi
Columbus Group, bakat adalah 'asynchronous development', yakni kemampuan
kognitif di atas rata-rata, mempunyai intensitas kuat yang dipadu dengan
pengalaman dan kesadaran diri yang secara kualitatif berbeda dengan orang
normal.Renzulli (1981), bakat merupakan gabungan dari tiga unsur
esensial yang sama pentingnya dalam menentukan keberbakatan seseorang, yakni
kecerdasan, kreativitas, dan tanggungjawab. Menurut Tedjasaputra, MS (2003), bakat adalah
kondisi seseorang yang dengan suatu pendidikan dan latihan memungkinkan
mencapai kecakapan, pengetahuaan dan keterampilan khusus.
Menurut Widodo
Judarwanto 2007, keberbakatan adalah
kemampuan intelektual atau kecerdasan diantaranya meliputi kemampuan
intelektual musik, matematika, fisika, kimia, elektronika, informasi tehnologi,
bahasa, olahraga dan berbagai tingkat kecerdasan di berbagai bidang lainnya
yang kemampuannya jauh di atas rata-rata anak seusianya.
Menurut Galton
2002, kebeberbakatan
merupakan kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh dari kombinasi sifat-sifat
yang meliputi kapasitas intelektual, kemauan yang kuat, dan unjuk kerja.
Menurut Renzulli
2002, keberbakatan
merupakan interaksi antara kemampuan umum dan/atau spesifik, tingkat tanggung
jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi.
Menurut Clark
(1986), keberbakatan adalah
ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa sejak lahir dan
merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. Keberbakatan ikut
ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang
berbakat itu hidup.
Dilihat dari sudut
pandang berdimensi ganda, keberbakatan adalah kemampuan unjuk kerja yang tinggi
di dalam aspek intelektual, kreativitas, seni, kepemimpinan, atau bidang
akademik tertentu. Dalam konsep luas dan terpadu, keberbakatan merupakan
kecakapan intelektual superior, yang secara potensial dan fungsional mampu
mencapai keunggulan akademiak di dalam kelompok populasinya dan atau berbakat
tinggi dalam bidang tertentu, seperti matematika, IPA, seni, musik,
kepemimpinan sosial dan perilaku kreatif tertentu dalam interaksidengan
lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu ditampilkan secara konsisten.
Anak berbakat
didefinisikan oleh USOE (United States Office of Education) sebagai
anak-anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam
bidang-bidang seperti intelektual, kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan
atau akademik spesifik, dan mereka
yang membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang
disediakan di sekolah sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya.
b.
Pengertian Kreativitas
Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan
sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk
karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah
ada sebelumnya dengan menekankan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan
kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan
cerminan kemampuan operasional anak kreatif.
· Kreativitas adalah suatu proses
yang menghasilkan sesuatu yang baru, dalam bentuk suatu gagasan atau suatu
objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock dalam Basuki, 2010).
· Proses kreatif adalah munculnya
dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu, dan dari
pengalaman yang menekankan pada produk yang baru, interaksi individu dengan
lingkungannya atau kebudayaannya (Rogers dalam Basuki, 2010).
· Kreativitas adalah suatu proses
upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek
kehidupannya dengan tujuan menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik
(Alvian dalam Basuki, 2010).
· Kreativitas adalah suatu proses yang
tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam
berfikir (Munandar dalam Basuki, 2010).
· Definisi Kreativitas menurut Clark
(dalam Basuki, 2010) :Clark berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang
spesialisasi belahan otak,mengemukakan : “Kretivitas merupakan ekspresi
tertinggi keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua
fungsi dasar manusia yaitu : berfikir, merasa, menginderakan dan intuisi (basic
function of thingking, feelings, sensing and intuiting)” (Jung 1961, Clark
1986)
Menurut Hurlock kreativitas menekankan pembuatan
sesuatu yang baru dan berbeda. Sedangkan Munandar menyebutkan kreativitas
adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru yang mencerminkan kelancaran,
keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk
mengkombinasikan suatu gagasan. Evans juga menjelaskan bahwa kreativitas adalah
kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan baru, untuk melihat suatu obyek
dari perspektif baru, dan untuk membentuk kombinasi baru dari dua atau lebih
konsep yang sudah ada dalam pikiran.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut peneliti dapat
menyimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan
hubunganhubungan baru dan membuat kombinasi-kombinasi baru yang mencerminkan
kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir sehingga dapat
menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru tidak berarti
sebelumnya tidak ada, akan tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu.
c.
Hubungan Antara Pengertian Keberbakatan dengan
Kreativitas
Konsepsi “Three-Ring
Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan (1981), yang
menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan)
keberbakatan ialah keterkaitan antara:
1. Kemampuan umum di atas rata –
rata,
2. Kreativitas di atas rata –
rata, dan
3. Pengikatan diri terhadap tugas
(task commitment cukup tinggi).
· Kemampuan umum di atas rata – rata
Salah satu kesalahan
dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan
kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan
keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (1959) yang
dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria
inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi
tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach (1976) pun
menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu
mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah
“kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh
tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir
kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan
spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini
merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task –
commitment”.
·
Kreativitas
diatas rata –rata
Kelompok (cluster)
kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan
umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan
– gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai
kemampuan untuk melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur
yang sudah ada sebelumnya.
- Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok karakteristik
yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah
pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang
mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun
mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk
keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsik dan
kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai
prestasi unggul.
Manfaat dari
definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga
kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas,
dan motivasi (pengikatan diri terhadap tugas). Jadi, menurut definisi Renzulli,
seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang
berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
DAFTAR PUSTAKA
http://nraprilia22portofolio2.blogspot.com/2015/04/pengembangan-kreativitas-dan.html
http://titaristawaty.blogspot.com/2015/04/pengembangan-kreativitas-dan.html
http://usmanerna.blogspot.com/2015/04/pengembangan-kreativitas-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar