Minggu, 17 Mei 2015

BELAJAR DAN MENGAJAR KREATIF



1.      BELAJAR KREATIF
a.      Pengertian Belajar Kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua kata yaitu kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli berpendapat dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda-beda,diantaranya sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan kreativitas sebagai ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek dari perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah tercetak dalam pikiran.
1.      Kreativitas memerlukan adanya modal, yaitu konsep dalam pikiran untuk dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda. Dalam pemecahan masalah, dia tidak harus mencari jawaban baru tetapi dia hanya perlu menggali informasi-informasi dalam pikirannya untuk dikaitkan dan dituangkan dalam bentuk solusi terhadap problem tersebut. Sedangkan Rogers menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang, dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
2.      Kreativitas dapat dinilai ketika hal tersebut tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika pemikiran baru belum dituangkan, maka itu adalah proses menuju kreativitas. Jadi, kreativitas tetaplah berpusat di otak manusia, kreativitas terjadi karena keseluruhan bagian otak bekerja secara bersamaan, terpadu pada satu waktu tertentu dengan tetap melakukan spesialisasi masing-masing, otak dengan sigap menanggapi setiap informasi yang masuk. Kadar pengelolaan otak akan sangat menentukan tingkat kreativitas seseorang, karena itu otak harus dilatih, tidak hanya dengan makanan bergizi tapi dengan latihan berfikir yang terus-menerus.
3.      Untuk dapatmelahirkan kreativitas, seseorang harus dapat memanfaatkan kedua sifat otak (kiri dan
-pengerian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
4.      kreativitas kanan). Otak kiri yang bersifat logika, berurutan, lisan, pertambahan, dan dominan. Sedangkan otak kanan bersifat emosi, lompatan, visual, menyeluruh, dan tersembunyi. Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah digunakan sebagai cara popular untuk menyatakan kreatif, artistik, dan rapi. Kreativitas muncul dari interaksi yang luar biasa antara kedua otak.Kreativitas adalah suatu ketrampilan.
5.      Dikarenakan kreativitas merupakan hasil sebuah latihan maka harus diupayakan secara terus- menerus agar tidak menjadi lumpuh.
6.      Artinya, siapa saja yang berniat untuk menjadi kreatif dan ia mau melakukan latihan-latihan yang benar, maka ia akan menjadi kreatif.
Dari pengertianadalah hasil sebuah latihan yang unik, berbeda, dan lebih baik serta bermanfaat. Sedangkan belajar diartikan sebagai suatu proses usaha yangdilakukan individu untuk memperoleh tingkah laku baru secarakeseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksidengan lingkungan.
Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan persepsi dan tingkah laku, termasuk juga perubahan perilaku. Lingkungan belajar merupakan faktor penting dalam pendidikan, yaitu guru dan orang tua yang dapat membantu dalam prose belajar, yang akan dapat membentuk lingkungan pembelajaran. Jadi, kreativitas belajar adalah suatu keterampilan yang dihasilkandari sebuah latihan- latihan (proses pembelajaran) yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
           
b.      Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan  kreativitas siswa dalam belajar yaitu:
a.               Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
·         Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
·         Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
·         Kesibukan Dalam Kelak
kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
·         Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
b.              Mengajukan dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
·         Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan mengajukan pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga dan berguna untuk :
ü  Menimbulkan minat dan motivasi siswa untuk berperan serta aktif.
ü  Menilai persiapansiswa ddan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
ü  Mengulang kembali dan meringkas apa yang telah diajarkan.
ü  Membantu siswa melihat hubungan-hubungan baru.
ü  Merangsang pemikiran kritis dan pengembangan sikap bertanya
ü  Merangsang siswa untuk mencari sendiri pengetahuan tambahan
ü  Menilai pencapaian tujuan dan sasaran belajar (Munandar, 1999 : 84)
·         Metode Diskusi
Dalammetode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
·       Metode Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan  merumuskan  masalah (tahap kedua), pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau  menjajaki (searching). Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
Keativitas berkaitan erat dengan proses perumusan hipotesis, yaitu dalam mengajukan pertnayaan dan hipotesis dalam mneghubungakan fakta yang diketahui dan asas-asas untuk mengembangkan strategi pemecahan, serta harus memperinci dan merumuskan kebutuhan dalammencari informasi, jadi, semua proses berfikir : kelancaran, keluwesan (fluksibilitas), orisinilitas, dan pemerincian (elaborasi) temasuk dalam prosess pemecahan masalah melalui inquiry-discovery. Pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh guru dalam  pengalaman belajar inquiry adalah :
1.      Berilah pengalaman permulaan untuk menarik minat siswa agar menanyakan mengenai suatu masalah, konsep, situasi atau gagasan, antara laindenganpenggunaan media, bermain peran dan demonstrasi.
2.      Berilah siswa materi pelajaran dan situasi yang memungkinkan penyelidikan (ekspolorasi)
3.      Sediakan sumber-sumber informasi dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di masyarakat.
4.      Sediakan peralatan untuk merangsang siswa melakukan eksperimen (percobaan).
5.      Sediakan waktu untuk berdiskusi, bereksperimen, mencoba-coba dan sebagainya.
6.      Berilah bimbingan dan perhargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan.
7.      Berilah dorongan dan penghargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan (Munandar, 1999 : 86).
·         Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
c.               Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan). 
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan  mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.

a.    Ciri-ciri kemampuan berfikir kreatif (aptitude)
1.      Keterampilan berfikir lancar
2.      Keterampilan berfikir luwes
3.      Keterampilan berfikir orisinal
4.      Keterampilan memperinci
5.      Keterampilan menilai
b.    Ciri-ciri efektif (nonaptitude)
1.      Rasa ingin tahu
2.      Bersifat imajinatif
3.      Merasa tergantung oleh kemajemukan
4.      Sifat berani mengambil resiko
5.      Sifat menghargai (Munandar, 1999 : 88-93).
d.              Menggabung pemikiran divergen dan pemikiran konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut siswa mencari jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang diberikan sudah tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap suatu persoalan.
e.               Menggabung proses berfikir dengan proses efektif
Contoh :
·         Berfikir lancar, gabung dengan rasa ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat menghasilkan gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah
·         Orisinalitas dalam berfikir akan paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan berani mengamukakan pendapat yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
Tehnik-tehnik relajar kreatif dijelaskan sebagai berikut:
a)      Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
1.      Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
2.      Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
3.      Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
b)      Sumbang Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas 8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
1.       Kebebasan dalam memberikan gagasan
2.      Penekanan pada kuantitas
3.      Kritik ditangguhkan
4.      Kombinsi dan peningkatan gagasan
5.      Mengulangi gagasan (Munandar, 1999 : 104).
c)      Daftar pertanyaan yang memacu gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
d)     Menyimak sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
e)      Hubungan yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagsan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
f)       Pendekatan Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1.       Kita mulai dengan menentukan komponen-komponen dasar dari masalah atau situasi
2.      Dari setiapkomponen kita tetapkan sifatnya
3.      Dengan meninjau setiap kemungkinan kombinasi, dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru  dan kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).

g)      Pemecahan masalah secara kreatif
parners, Noller dan Biondi (1971) dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan masalah secara kreatif (PMK) meliputi:
1.      Tahap mengumpulkan fakta
2.      Tahap menemukan masalah
3.      Tahap menemukan gagasan
4.      Tahan mnemukan jawaban
5.      Tahap menemukan penerimaan

c.       Mengapa Belajar Kreatif itu penting?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Cony Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1)      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2)      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang ridak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3)      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman kreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan prbadi kita.
4)      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
d.      Tiga Tingkat Belajar Kreatif ( Model Triffinger)
Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen. Tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuk. Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :
1.      Teknik-teknik kreatif tingkat pertama
Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen in antara lain menggunakan teknik pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan. Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:
·         Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban. Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.
·         Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.
·         Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.
·         Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
mungkin dalam setiap situasi.
Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan sebagai berikut:
1)      Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide. Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
2)      Pemikiran dan perasaan berahir terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
ü  Andaikata Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
ü  Peningkatan suatu produk. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
ü  Permulaan yang tidak selesai. Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh: penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
sebagainya.
ü  Pengguna baru dari objek-objek umum. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
ü  Alternatif judul. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan atau gambar-gambar tentang sesuatu.
ü  Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
ü  Sumbang Saran Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka, lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan gagasan-gagasan. Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan sebagai berikut:
i. Kritik harus tepat waktu. Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
ii. Kebebasan dalam memberikan gagasan Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya.
iii. Penekanan pada kuantitas. Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan
iv. Kombinasi dan peningkatan gagasan. Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang lebih bermutu.
  v. Penekanan pada kualitas. Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan yang lebih berkualitas.
vi.  Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.
vii. Daftar penulisan gagasan. Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agarpembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubungan-hubunganbaru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
§  Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
§  Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide dan sebagainya.
§  Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
§  Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu, bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
§  Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti :
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
2.      kedua
§  Dalam teknik- Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
viii.  Penyusunan sifat Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek. Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
§  Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa
perkotaan dan siswa pedesaan.
§  Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak
reformasi terhadap mutu pendidikan.
§  Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
§  Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
§  Hubungan yang dipaksakan
ix. Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.
Teknik-teknik kreatif tingkat teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif. Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik kreatif tingkat kedua, antara lain:
1)      Teknis analis morfologis. Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat. Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.
2)      Teknik bermain peran dan sosiodrama. Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman dalam kehidupanya.
3)      Synectics. Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.
3.      Teknik kreatif tingkat ketiga
Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif. PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
 Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini. Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
a.       Seleksi dan latihan guru.
b.      Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni.
c.       Prosedur identifikasi jamak.
d.      Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi.
e.       Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama.
f.       Rencana evaluasi.
g.      Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri dari kepala sekolah guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini. Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
-          Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya.
-          Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif.
-          Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua.
-          Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya.
-          Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya.
-          Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.

2.      MENGAJAR KREATIF
a.      Pengertian Mengajar Kreatif
Mengajar kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi dan melakukan hal-hal artistik lainnya, dibentuk dari suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan serta dirancang untuk mensimulasi.
b.   Teknik Mengajar Kreatif
1.     Melakukan Pemanasan (Warming Up)
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.

2.     Pemikiran dan Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban. Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukanpertanyaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai, Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari, Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda.





3.     STRATEGI BELAJAR KREATIF
  Dalam kegiatan mengajar sehari-hari dapat digunakan sejumlah strategi khusus yang dapat meningkatkan kreativitas.
1.    Penilaian
Penilaian guru terhadap pekerjaan murid yang dapat dilakukan dengancara :
·                       Memberi umpan balik berarti daripada evaluasi yang abstrak dan tidak jelas
·                      Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan belajar dari kesalahan mereka
·                      Penekanan terhadap “apa yang telah kamu pelajari” dan bukan pada “bagaimana melakukannya”.
2.    Hadiah
Anak senang menerima hadiah dan kadang-kadang melakukan segala sesuatu untuk memperolehnya. Hadiah yang terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah kesempatan menampilkan danmempresentasekan pekerjaan sendiri dan pekerjaan tambahan.
3.    Pilihan
Sedapat mungkin berilah kesempatan kepada anak memilih apa yang nyaman bagi dia selama hal itu sesuain dengan ketentuan yang ada.

4.      SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
              Untuk dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan guru dalam meninggalkan gagasan/ide dan perilaku yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan/ide dan perilaku baru itu terwujud ke dalam pola pembelajaran yang di nilai kreatif dan adaptif terhadap perubahan (Agung 2010:12). Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a. Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar/Materi
Pelajaran Merancang dan menyiapkan bahan ajar/materi pelajaran merupakan faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran terhadap anak didik dapat berlangsung baik, rancangan dan persiapan bahan ajar/materi pelajaran pun harus baik pula, cermat dan sistematis. Rancangan atau persiapan bahan ajar/ materi pelajaran berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat terarah baik dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar/ materi pelajaran disertai pula dengan gagasan/ide dan perilaku guru yang kreatif (Agung 2010:54). Sejumlah hal dibawah ini mungkin dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan gagasan/ide dan perilaku kreatif berkaitan dengan menyusun rencana atau persiapan mengajar (Agung 2010:54-55).
• Menentukan bahan ajar/materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik
•  Menentukan tujuan pembelajaran dari masing-masing bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan
• Memilah bahan ajar/materi pelajaran yang dinilai sulit dan mudah diterima oleh peserta didik
• Merancang cara pemberian dan membangkitkan perhartian dan semangat belajar siswa, melalui contoh, ilustrasi gaya bahasa yang di gunakan dan lain sebagainya
• Merancang cara untuk menimbulkan keaktifan dalam pembelajaran siswa, berupa pemberian tugas mencari bahan ajar, eksperimen, stimulasi, diskusi, perkerjaan rumah dan sebagainya
• Merancang cara pemberian pengulangan tehadap bahan ajar yang dinilai sulit melalui tes kecil, pemberian tambahan waktu belajar, pemberian tugas/perkerjaan rumah dan lain sebaginya
• Merancang cara memberikan tantangan belajar yang perlu diatasi bersama oleh siswa, baik individual maupun kelompok, seperti menugaskan membaca dan menyimpulakn hasil, tugas, tugas kelompok, pengenalan lingkungan sekitar, memberikan tugas kliping Koran dengan tema sesuai dengan materi pelajaran dan memberikan kesimpulan dan lain sebagainya
• Merancang cara untuk balikan dan penguatan, berupa tes kecil harian, pemberian tugas/latihan, pemberian jam pelajaran tambahan untuk penguatan dan sebagainya
• Memperhatikan perbedaan karakteristik kemampuan siswa dan mengelompokkan ke dalam siswa pintar, sedang, dan kurang, serta perlakuan yang akan diberikan
• Menyusun rencana kerja
b. Pengelolaan Kelas
Pengelolahan kelas harus sesuai dengan materim, tujuan, dan kebutuhan yang dihadapi. Guru dapat merancang pengelolahan kelas secara variatif untuk menghindarkan proses pembelajaran yang monoton, satu arah dan kering. Sebaliknya, pengelolaan kelas yang terencana dengan baik akan membawa suasana pembelajaran lebih menantang, menarik dan tidak membosabkan. Kreativitas guru dalam pengelolaan kelas (Agung 2010:56-57):
• Mengkaji bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan, tujuan pembelajran
• Mengkaji bentuk-bentuk pengelolaan kelas dan menentukan dengan kemungkinan penerapan sesuai dengan bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan, dalam bentuk klasikal/kelas, berkelompok, berpasangan, perseorangan atau lainnya
• Memperhatikan hal-hal pengelolaan kelas terkait denganpemberian dan membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, mengembangkan keaktifan dalam pembelajara, keterlibatan langsung peserta didik, pemberian pengulangan, pemberian tantangan belajar, pemberian balikan dan penguatan, serta perbedaan individual siswa
• Mengidentifikasi permasalahan dan hambatan dalam pengelolaan dan kebutuhanruang/kelas, serta membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternative pemecahannya
• Menyusun rencana kerja terkait pengelolaan kelas
c. Pemanfaatan Waktu
Hal yang dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku kreatif dalam memanfaatkan waktu antara lain (Agung 2010:58-59):
• Mengkaji rancangan/persiapan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya
• Menyusun pembagian waktu pembelajaran berdasarkan jenis/bentuk pengajaran, misalkan penyampaian bahan ajar/materi pelajaran, diskusi, eksperimen, dan lain sebagainya
• Merancang dan menyususun pembagian waktu untuk membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, keterlibatan langsung, keaktifan, pengulangan, balikan dan penguatan, sampai dengan penambahan jam pelajaran
• Mengidentifikasi permasalahan dan  hambatan yang muncul dalam upaya memberikan tambahan waktu belajar kepada siswa
• Membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternatif pemecahannya.
• Menyusun rencana kerja pemanfaatan waktu
d. Penggunaan Metode Pembelajaran
Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang kreatif dalam menggunakan metode pengajaran, yaitu (Agung 2010:60-61):
• Mengkaji bentuk metode pembelajaran yang ada
• Mengkaji segenap hal terkait  dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian terhadap perbedaan karakteristik peserta didik
• Merancang metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengunaannya
• Membahas rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dan menyiapkan fasilitas pendukung
• Mencari bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah (apabila diperlukan)
• Menyususn rancangan kerja pemanfaatan metode pembelajaran

e. Penggunaan Media Pembelajaran
Di bawah ini sejumlah langkah/tindakan yang dapat dilaksanakan oleh guru terkait dengan penggunaan media pembelajaran, antara lain (Agung 2010:62):
• Mengkaji bentuk-bentuk media pembelajaran yang ada
• Mengkaji segenap hal terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan karakteristik peserta didik
• Merancang dan membahas penggunaan media pembelajaran
• Mencari bantuan ahli
• Menyusun rencana kerja penggunaan media pembelajaran.
f. Pengembangan Alat Evaluasi
Dibawah ini dikemukakan langkah-langkah atau tindakan yang mungkin dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif berkaitan dengan pengembangan alat evaluasi tersebut (Agung 2010:63-65):
• Mengidentifikasi jenis/bentuk tes berbagai alat evaluasi hasil belajar siswa/peserta didik serta kaidah-kaidah penulisan soal
• Menentukan waktu evaluasi berupa tes/ulangan harian, mingguan, bulanan, cawu dan semester
• Menentukan jenis/bentuk tes (uraian, jawaban singkat, isian, pilihan ganda, menjodohkan dan benar salah)
• Menetapkan jenis/bentuk tes yang telah dipilih
• Mengidentifikasi permasalahan, hambatan dan kebutuhan berkenaan dengan penggunaan jenis/bentuk tes
• Menentukan alternatif pemecahan permasalahan, hambatan dan kebutuhan yang dihadapi.
Daftar Pustaka
https://totoyulianto.wordpress.com/2013/03/09/
pengertian-kreativitas-belajar-menurut-para-
ahli/

https://ranijelita.wordpress.com/2012/12/15/
mengapa-belajar-kreatif-itu-penting/

Sumber: Kreativitas & Keberbakatan, Strategi
Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat. Prof Dr.
S.C. Utami Munandar. (Hal. 246 – 249

http://esemkaduaternate.blogspot.com/2011/12/
mengajar-kreatif-definisi-mengajar.html

http://meilina1515.blogspot.com/2012/12/
belajar-dan-mengajar-secara-kreatif.html
http://yohanayayangcitradevi.blogspot.com/2015/04/
belajar-dan-mengajar-kreatif_57.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar