1.
BELAJAR KREATIF
a.
Pengertian Belajar Kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua
kata yaitu kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli
berpendapat dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang
berbeda-beda,diantaranya sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan
kreativitas sebagai ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek
dari perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih
konsep yang telah tercetak dalam pikiran.
1. Kreativitas memerlukan adanya modal,
yaitu konsep dalam pikiran untuk dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda.
Dalam pemecahan masalah, dia tidak harus mencari jawaban baru tetapi dia hanya
perlu menggali informasi-informasi dalam pikirannya untuk dikaitkan dan
dituangkan dalam bentuk solusi terhadap problem tersebut. Sedangkan Rogers
menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk
mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang, dan
menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua
kemampuan organisme.
2. Kreativitas dapat dinilai ketika hal
tersebut tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika pemikiran baru belum
dituangkan, maka itu adalah proses menuju kreativitas. Jadi, kreativitas
tetaplah berpusat di otak manusia, kreativitas terjadi karena keseluruhan
bagian otak bekerja secara bersamaan, terpadu pada satu waktu tertentu dengan
tetap melakukan spesialisasi masing-masing, otak dengan sigap menanggapi setiap
informasi yang masuk. Kadar pengelolaan otak akan sangat menentukan tingkat
kreativitas seseorang, karena itu otak harus dilatih, tidak hanya dengan
makanan bergizi tapi dengan latihan berfikir yang terus-menerus.
3. Untuk dapatmelahirkan kreativitas,
seseorang harus dapat memanfaatkan kedua sifat otak (kiri dan
-pengerian tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa
4. kreativitas kanan). Otak kiri yang
bersifat logika, berurutan, lisan, pertambahan, dan dominan. Sedangkan otak
kanan bersifat emosi, lompatan, visual, menyeluruh, dan tersembunyi.
Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah digunakan sebagai cara popular untuk
menyatakan kreatif, artistik, dan rapi. Kreativitas muncul dari interaksi yang
luar biasa antara kedua otak.Kreativitas adalah suatu ketrampilan.
5. Dikarenakan kreativitas merupakan
hasil sebuah latihan maka harus diupayakan secara terus- menerus agar tidak
menjadi lumpuh.
6. Artinya, siapa saja yang berniat
untuk menjadi kreatif dan ia mau melakukan latihan-latihan yang benar, maka ia
akan menjadi kreatif.
Dari pengertianadalah hasil sebuah
latihan yang unik, berbeda, dan lebih baik serta bermanfaat. Sedangkan belajar
diartikan sebagai suatu proses usaha yangdilakukan individu untuk memperoleh
tingkah laku baru secarakeseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksidengan lingkungan.
Belajar mengandung pengertian
terjadinya perubahan persepsi dan tingkah laku, termasuk juga perubahan
perilaku. Lingkungan belajar merupakan faktor penting dalam pendidikan, yaitu
guru dan orang tua yang dapat membantu dalam prose belajar, yang akan dapat
membentuk lingkungan pembelajaran. Jadi, kreativitas belajar adalah suatu
keterampilan yang dihasilkandari sebuah latihan- latihan (proses pembelajaran)
yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
b.
Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang
dapat meningkatkan kreativitas siswa
dalam belajar yaitu:
a.
Menciptakan
lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
· Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang
menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu
diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku
apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang
berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan
meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih
terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat
tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan
minat dan rasa ingin tahu siswa.
· Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk
mengadakan diskusi kelompok.
· Kesibukan Dalam Kelak
kegiatan belajar secara kreatif
sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh
karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut
ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat
membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang
menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
· Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih
berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan
segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator)
untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus
terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan
ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara
keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
b.
Mengajukan
dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar,
diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa
maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
· Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran
kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini
membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan
hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan mengajukan pertanyaan, guru
memperoleh informasi yang berharga dan berguna untuk :
ü Menimbulkan
minat dan motivasi siswa untuk berperan serta aktif.
ü Menilai
persiapansiswa ddan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan
sebelumnya.
ü Mengulang
kembali dan meringkas apa yang telah diajarkan.
ü Membantu
siswa melihat hubungan-hubungan baru.
ü Merangsang
pemikiran kritis dan pengembangan sikap bertanya
ü Merangsang
siswa untuk mencari sendiri pengetahuan tambahan
ü Menilai
pencapaian tujuan dan sasaran belajar (Munandar, 1999 : 84)
· Metode Diskusi
Dalammetode dikusi, peran guru
dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang
mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka
butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul
kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar
siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
· Metode Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan
pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam
proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui
inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor
yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan
merumuskan masalah (tahap kedua),
pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi
kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun.
Tahap ketiga adalah mencari atau menjajaki (searching). Pada tahap
pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
Keativitas berkaitan erat dengan
proses perumusan hipotesis, yaitu dalam mengajukan pertnayaan dan hipotesis
dalam mneghubungakan fakta yang diketahui dan asas-asas untuk mengembangkan
strategi pemecahan, serta harus memperinci dan merumuskan kebutuhan
dalammencari informasi, jadi, semua proses berfikir : kelancaran, keluwesan
(fluksibilitas), orisinilitas, dan pemerincian (elaborasi) temasuk dalam
prosess pemecahan masalah melalui inquiry-discovery. Pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh guru dalam pengalaman belajar inquiry adalah :
1. Berilah pengalaman permulaan untuk
menarik minat siswa agar menanyakan mengenai suatu masalah, konsep, situasi
atau gagasan, antara laindenganpenggunaan media, bermain peran dan demonstrasi.
2. Berilah siswa materi pelajaran dan
situasi yang memungkinkan penyelidikan (ekspolorasi)
3. Sediakan sumber-sumber informasi
dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di masyarakat.
4. Sediakan peralatan untuk merangsang
siswa melakukan eksperimen (percobaan).
5. Sediakan waktu untuk berdiskusi,
bereksperimen, mencoba-coba dan sebagainya.
6. Berilah bimbingan dan perhargaan
terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan.
7. Berilah dorongan dan penghargaan
terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan
(Munandar, 1999 : 86).
· Mengajukan pertanyaan yang menantang
(provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang
daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang
(provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat
apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu
kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan
akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus
membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau
situasi itu terjadi di sini.
c.
Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif
(sikap) dan Psikomotorik (perasaan).
Dalam rangka membangun manusia
seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu
perkembangan mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi
(kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.
a. Ciri-ciri
kemampuan berfikir kreatif (aptitude)
1. Keterampilan berfikir lancar
2. Keterampilan berfikir luwes
3. Keterampilan berfikir orisinal
4. Keterampilan memperinci
5. Keterampilan menilai
b. Ciri-ciri
efektif (nonaptitude)
1. Rasa ingin tahu
2. Bersifat imajinatif
3. Merasa tergantung oleh kemajemukan
4. Sifat berani mengambil resiko
5. Sifat menghargai (Munandar, 1999 :
88-93).
d.
Menggabung
pemikiran divergen dan pemikiran konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut
siswa mencari jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang
diberikan sudah tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen
atau pemikiran kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin
jawaban terhadap suatu persoalan.
e.
Menggabung
proses berfikir dengan proses efektif
Contoh :
·
Berfikir lancar, gabung dengan rasa
ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat menghasilkan
gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah
·
Orisinalitas dalam berfikir akan
paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan berani mengamukakan pendapat
yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
Tehnik-tehnik
relajar kreatif dijelaskan sebagai berikut:
a) Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk
merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan
kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan
perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan
pemikiran dan perasaaan terbuka
1. Menyelesaikan sesuatu yang telah
dimulai
2. Mencari penggunaan baru dari benda
sehari-hari
3. Meningkatkan atau memperbaiki suaut
produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
b) Sumbang Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn
ini dapat diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas
8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota
kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
1. Kebebasan dalam memberikan gagasan
2. Penekanan pada kuantitas
3. Kritik ditangguhkan
4. Kombinsi dan peningkatan gagasan
5. Mengulangi gagasan (Munandar, 1999 :
104).
c) Daftar pertanyaan yang memacu
gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan
arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan,
meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar
pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
d) Menyimak sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah
gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi.
Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat,
kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan
kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
e) Hubungan yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang
gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara
objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk menimbulkan
gagasan-gagsan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat
melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi
(kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
f) Pendekatan Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis
morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru
dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
1. Kita mulai dengan menentukan
komponen-komponen dasar dari masalah atau situasi
2. Dari setiapkomponen kita tetapkan
sifatnya
3. Dengan meninjau setiap kemungkinan
kombinasi, dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru
dan kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).
g) Pemecahan masalah secara kreatif
parners, Noller dan Biondi (1971)
dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan masalah secara
kreatif (PMK) meliputi:
1. Tahap mengumpulkan fakta
2. Tahap menemukan masalah
3. Tahap menemukan gagasan
4. Tahan mnemukan jawaban
5. Tahap menemukan penerimaan
c.
Mengapa Belajar Kreatif itu penting?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Cony
Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1) Belajar kreatif membantu anak
menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah
aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebih mampu menangani
dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2) Belajar kreatif menciptakan
kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang ridak mampu kita
ramalkan yang timbul di masa depan.
3) Belajar kreatif dapat menimbulkan
akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman kreatif yang lebih
dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa
belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan prbadi
kita.
4) Belajar kreatif dapat menimbulkan
kepuasan dan kesenangan yang besar.
d.
Tiga Tingkat Belajar Kreatif ( Model
Triffinger)
Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang
penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan
teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari
Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan
menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran
divergen. Tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang
majemuk. Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari
masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :
1. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama
Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan pada
fungsi-fungsi divergen in antara lain menggunakan teknik pemanasaan, pemikiran
dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan
gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan. Metode pembelajaran
kreatif tingkat pertama
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:
· Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini
menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban. Bukan dikemukakanya
sebuah jawaban yang benar.
· Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari
bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang
bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa.
Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita
menghargai gagsan yang wajar.
· Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.
· Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
mungkin dalam setiap situasi.
mungkin dalam setiap situasi.
Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan sebagai berikut:
diuraikan sebagai berikut:
1) Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan prabelajar yang
digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap pemanasan ini mengupayakan adanya
kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan cara pembebasan diri dari
peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar
dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari
batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar sudah masuk pada
suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku
ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan
pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun
kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand
feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
ü Andaikata Pertanyaan ini
dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau
sesuatu yang bertentangan dengan fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi
tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
ü Peningkatan suatu produk.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan
atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: bagaimana cara
memperbaiki cara belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
yang biasa dilakukan sekarang.
ü Permulaan yang tidak
selesai. Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang
belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian
atau penyempurnaanya. Contoh: penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain,
rancangan dan
sebagainya.
sebagainya.
ü Pengguna baru dari
objek-objek umum. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu
benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim. Contoh:
tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
ü Alternatif judul. Pertanyaan
ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan
judulnya yang tepat. Contoh: kepada pembelajar ditunjukkan naskah sebuah
cerita, dan bisa lukisan atau gambar-gambar tentang sesuatu.
ü Membantu siswa atau anak
untuk mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya
siswa beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks
pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan banyak untuk memikirkan banyak
pertanyaan. Melalui strategi pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan
pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
ü Sumbang Saran Teknik
sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh Osborn ini mengkondisikan
agar pembelajar lebih bersikap terbuka, lebih terbuka terhadap lingkungan, dan
produktif dalam melahirkan gagasan-gagasan. Agar teknik sumbang saran ni dapat
membuahkan hasil yang lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan
aturan-aturan sebagai berikut:
i. Kritik harus tepat waktu. Dalam kegiatan pemecahan masalah
dengan tehnik sumbang saran ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu
tahap pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan tahapan ini
harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu
seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari
pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat
mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru.
Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar
telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
ii. Kebebasan dalam memberikan gagasan Sangat penting untuk diketahui
bahwa dalam teknik sumbang saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide,
terlepas dari kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan
sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara murni dan berani.
Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang beraneka ragam, yang sifatnya ada yang
wajar, ada yang tidak atau kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama
sekali. Hal seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi
rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan tertelaah oleh pihak
lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan
baru sebagai tindak lanjutnya.
iii. Penekanan pada kuantitas. Hal terpenting dalam teknik ini adalah
banyaknya ide-gagasan
iv. Kombinasi dan peningkatan gagasan. Berawal dari banyaknya
gagasan sebagai orientasi dalam teknik ini, ada peluang kemungkinan untuk
mengkombinasi gagasangagasan yang telah ada yang diperkirakan akan lahir
gagasan yang lebih bermutu.
v. Penekanan pada kualitas. Diantara banyaknya gagasan,
diharapkan akan adanya gagasan yang lebih berkualitas.
vi. Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.
vii. Daftar penulisan gagasan. Teknik daftar penulisan gagasan ini
mengkondisikan agarpembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat
hubungan-hubunganbaru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan
gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran teknik ini ialah bahwa
melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan,
gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan
daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan
gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut
dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
§ Mengganti (substitute):
siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
§ Mengkombinasi(combine):
mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide dan sebagainya.
§ Mengubah (modify):
Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
§ Memperbesar (magnify):
menambahkan apa saja seperti: waktu, bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
§ Memperkecil (minify): apa
saja yang dapat dikurangi seperti :
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
2. kedua
§ Dalam teknik- Menyusun
kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
viii. Penyusunan sifat Seperti halnya teknik yang lain, teknik
penyusunan sifat ini memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang
munculnya banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek.
Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
§ Perbandingan, misalnya:
membandingkan cara belajar siswa
perkotaan dan siswa pedesaan.
perkotaan dan siswa pedesaan.
§ Analisis peristiwa atau
pola-pola sejarah, misalnya: dampak
reformasi terhadap mutu pendidikan.
reformasi terhadap mutu pendidikan.
§ Menyadari nilai dan
memperjelas perasaan, misalnya:
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
§ Menentukan kriteria penilaian,
misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
§ Hubungan yang dipaksakan
ix. Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.
Teknik-teknik kreatif tingkat teknik kreatif tingkat kedua ini pada
intinya ingin mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta
melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang.
Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk
memecahkan masalah secara efektif. Secara seingkat berikut ini akan menguraikan
beberapa teknik kreatif tingkat kedua, antara lain:
1) Teknis analis morfologis. Teknik
analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik kreatif tingkat pertama
yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang
dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat. Teknik ini bertujuan agar pembelajar
mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk
dan struktur masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari
masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau
gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.
2) Teknik bermain peran dan sosiodrama.
Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran untuk menghadapi
proses pemikiran dan perasaan yang majemuk secara efektif. Teknik ini
mengupayakan agar pembelajar dapat menangani konflik, stres, dan masalah yang
timbul dari pengalaman dalam kehidupanya.
3) Synectics. Oleh penemuan synectics ini
W.j.j. Gordon (1980), teknik synectics merupakan teknik mempertemukan bersama
berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk memperoleh suatu
pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam teknik ini adalah, pertama,
membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi
yang asing, keduanya melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan
sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau
gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.
3. Teknik kreatif tingkat ketiga
Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan
pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar kegiatan
pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah
nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam
pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang
digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara
kreatif. PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan
mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan
secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat
keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain
pembelajaran yang sifatnya amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang
paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh
dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh
dalam merancang kegiatan ini. Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak
kreatif terus menerus memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan
unik yang optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci
dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
a. Seleksi dan latihan guru.
b. Pengembangan kurikulum berdiferensiasi
dalam berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan
seni.
c. Prosedur identifikasi jamak.
d. Pematokan sasaran program yang
sifatnya terdiferensiasi.
e. Orientasi staf dan peningkatan
sikap kerja sama.
f. Rencana evaluasi.
g. Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri dari
kepala sekolah guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang
bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang
program ini. Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci
(Clark,1986), yaitu program itu harus:
- Memberi
kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus
dapat mengembangkan potensinya.
- Mengembangkan
lingkungan bermutu untuk meningkatkan intelegensi, bakat, perkembangan afektif
dan intuitif.
- Memberi peluang
untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua.
- Menyiapkan
tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri
kemampuanya.
- Memberi peluang
pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya.
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya.
- Memberi
stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.
2.
MENGAJAR KREATIF
a.
Pengertian Mengajar Kreatif
Mengajar
kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi
dan melakukan hal-hal artistik lainnya, dibentuk dari suatu proses yang baru.
Memiliki kemampuan untuk menciptakan serta dirancang untuk mensimulasi.
b.
Teknik Mengajar Kreatif
1. Melakukan Pemanasan (Warming Up)
Sebelum memulai dengan kegiatan yang
menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu
diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku
apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang
berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan
meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih
terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat
tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan
minat dan rasa ingin tahu siswa.
Teknik pemikiran dan perasaan
berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan
dan pikiran sebagai jawaban. Cara yang paling sederhana untuk merangsang
pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan
timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta
dengan membantu siswa mengajukanpertanyaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan
perasaaan terbuka Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai, Mencari penggunaan
baru dari benda sehari-hari, Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau
benda.
3. STRATEGI
BELAJAR KREATIF
Dalam
kegiatan mengajar sehari-hari dapat digunakan sejumlah strategi khusus yang
dapat meningkatkan kreativitas.
1.
Penilaian
Penilaian
guru terhadap pekerjaan murid yang dapat dilakukan dengancara :
·
Memberi umpan balik berarti daripada
evaluasi yang abstrak dan tidak jelas
·
Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan
belajar dari kesalahan mereka
·
Penekanan terhadap “apa yang telah kamu pelajari” dan bukan
pada “bagaimana melakukannya”.
2.
Hadiah
Anak
senang menerima hadiah dan kadang-kadang melakukan segala sesuatu untuk
memperolehnya. Hadiah yang terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah kesempatan
menampilkan danmempresentasekan pekerjaan sendiri dan pekerjaan tambahan.
3.
Pilihan
Sedapat
mungkin berilah kesempatan kepada anak memilih apa yang nyaman bagi dia selama
hal itu sesuain dengan ketentuan yang ada.
4.
SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK
IKLIM BELAJAR KREATIF
Untuk dapat mengatasi permasalahan
dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran.
Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat
menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa.
Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru cenderung kurang bermakna
apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang
kreatif. Kreativitas adalah kemampuan guru dalam meninggalkan gagasan/ide dan
perilaku yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan beralih untuk menghasilkan
atau memunculkan gagasan/ide dan perilaku baru itu terwujud ke dalam pola
pembelajaran yang di nilai kreatif dan adaptif terhadap perubahan (Agung
2010:12). Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a.
Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar/Materi
Pelajaran
Merancang dan menyiapkan bahan ajar/materi pelajaran merupakan faktor penting
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran terhadap anak didik dapat berlangsung
baik, rancangan dan persiapan bahan ajar/materi pelajaran pun harus baik pula,
cermat dan sistematis. Rancangan atau persiapan bahan ajar/ materi pelajaran
berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses
pembelajaran dapat terarah baik dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang
dan menyiapkan bahan ajar/ materi pelajaran disertai pula dengan gagasan/ide
dan perilaku guru yang kreatif (Agung 2010:54). Sejumlah hal dibawah ini
mungkin dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan gagasan/ide dan
perilaku kreatif berkaitan dengan menyusun rencana atau persiapan mengajar
(Agung 2010:54-55).
• Menentukan
bahan ajar/materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik
• Menentukan
tujuan pembelajaran dari masing-masing bahan ajar/materi pelajaran yang akan
disampaikan
• Memilah
bahan ajar/materi pelajaran yang dinilai sulit dan mudah diterima oleh peserta
didik
•
Merancang cara pemberian dan membangkitkan perhartian dan semangat belajar
siswa, melalui contoh, ilustrasi gaya bahasa yang di gunakan dan lain
sebagainya
•
Merancang cara untuk menimbulkan keaktifan dalam pembelajaran siswa, berupa pemberian
tugas mencari bahan ajar, eksperimen, stimulasi, diskusi, perkerjaan rumah dan
sebagainya
•
Merancang cara pemberian pengulangan tehadap bahan ajar yang dinilai sulit
melalui tes kecil, pemberian tambahan waktu belajar, pemberian tugas/perkerjaan
rumah dan lain sebaginya
•
Merancang cara memberikan tantangan belajar yang perlu diatasi bersama oleh
siswa, baik individual maupun kelompok, seperti menugaskan membaca dan
menyimpulakn hasil, tugas, tugas kelompok, pengenalan lingkungan sekitar,
memberikan tugas kliping Koran dengan tema sesuai dengan materi pelajaran dan
memberikan kesimpulan dan lain sebagainya
•
Merancang cara untuk balikan dan penguatan, berupa tes kecil harian, pemberian
tugas/latihan, pemberian jam pelajaran tambahan untuk penguatan dan sebagainya
•
Memperhatikan perbedaan karakteristik kemampuan siswa dan mengelompokkan ke
dalam siswa pintar, sedang, dan kurang, serta perlakuan yang akan diberikan
• Menyusun
rencana kerja
b.
Pengelolaan Kelas
Pengelolahan
kelas harus sesuai dengan materim, tujuan, dan kebutuhan yang dihadapi. Guru
dapat merancang pengelolahan kelas secara variatif untuk menghindarkan proses
pembelajaran yang monoton, satu arah dan kering. Sebaliknya, pengelolaan kelas
yang terencana dengan baik akan membawa suasana pembelajaran lebih menantang,
menarik dan tidak membosabkan. Kreativitas guru dalam pengelolaan kelas (Agung
2010:56-57):
• Mengkaji
bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan, tujuan pembelajran
• Mengkaji
bentuk-bentuk pengelolaan kelas dan menentukan dengan kemungkinan penerapan
sesuai dengan bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan, dalam bentuk
klasikal/kelas, berkelompok, berpasangan, perseorangan atau lainnya
•
Memperhatikan hal-hal pengelolaan kelas terkait denganpemberian dan membangkitkan
perhatian dan motivasi peserta didik, mengembangkan keaktifan dalam
pembelajara, keterlibatan langsung peserta didik, pemberian pengulangan,
pemberian tantangan belajar, pemberian balikan dan penguatan, serta perbedaan
individual siswa
• Mengidentifikasi
permasalahan dan hambatan dalam pengelolaan dan kebutuhanruang/kelas, serta
membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternative
pemecahannya
• Menyusun
rencana kerja terkait pengelolaan kelas
c.
Pemanfaatan Waktu
Hal yang
dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku kreatif dalam
memanfaatkan waktu antara lain (Agung 2010:58-59):
• Mengkaji
rancangan/persiapan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya
• Menyusun
pembagian waktu pembelajaran berdasarkan jenis/bentuk pengajaran, misalkan
penyampaian bahan ajar/materi pelajaran, diskusi, eksperimen, dan lain
sebagainya
•
Merancang dan menyususun pembagian waktu untuk membangkitkan perhatian dan
motivasi peserta didik, keterlibatan langsung, keaktifan, pengulangan, balikan
dan penguatan, sampai dengan penambahan jam pelajaran
•
Mengidentifikasi permasalahan dan hambatan yang muncul dalam upaya
memberikan tambahan waktu belajar kepada siswa
• Membahas
dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternatif
pemecahannya.
• Menyusun
rencana kerja pemanfaatan waktu
d.
Penggunaan Metode Pembelajaran
Beberapa
hal yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang
kreatif dalam menggunakan metode pengajaran, yaitu (Agung 2010:60-61):
• Mengkaji
bentuk metode pembelajaran yang ada
• Mengkaji
segenap hal terkait dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari
bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, upaya
membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan
peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian
terhadap perbedaan karakteristik peserta didik
•
Merancang metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengunaannya
• Membahas
rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dan menyiapkan fasilitas
pendukung
• Mencari
bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah (apabila diperlukan)
•
Menyususn rancangan kerja pemanfaatan metode pembelajaran
e.
Penggunaan Media Pembelajaran
Di bawah
ini sejumlah langkah/tindakan yang dapat dilaksanakan oleh guru terkait dengan
penggunaan media pembelajaran, antara lain (Agung 2010:62):
• Mengkaji
bentuk-bentuk media pembelajaran yang ada
• Mengkaji
segenap hal terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan
ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan
semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan
dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan karakteristik peserta didik
• Merancang
dan membahas penggunaan media pembelajaran
• Mencari
bantuan ahli
• Menyusun
rencana kerja penggunaan media pembelajaran.
f.
Pengembangan Alat Evaluasi
Dibawah
ini dikemukakan langkah-langkah atau tindakan yang mungkin dapat dilakukan guru
dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif berkaitan
dengan pengembangan alat evaluasi tersebut (Agung 2010:63-65):
•
Mengidentifikasi jenis/bentuk tes berbagai alat evaluasi hasil belajar
siswa/peserta didik serta kaidah-kaidah penulisan soal
•
Menentukan waktu evaluasi berupa tes/ulangan harian, mingguan, bulanan, cawu
dan semester
•
Menentukan jenis/bentuk tes (uraian, jawaban singkat, isian, pilihan ganda,
menjodohkan dan benar salah)
•
Menetapkan jenis/bentuk tes yang telah dipilih
• Mengidentifikasi
permasalahan, hambatan dan kebutuhan berkenaan dengan penggunaan jenis/bentuk
tes
•
Menentukan alternatif pemecahan permasalahan, hambatan dan kebutuhan yang
dihadapi.
Daftar Pustaka
https://totoyulianto.wordpress.com/2013/03/09/
pengertian-kreativitas-belajar-menurut-para-
ahli/
pengertian-kreativitas-belajar-menurut-para-
ahli/
https://ranijelita.wordpress.com/2012/12/15/
mengapa-belajar-kreatif-itu-penting/
Sumber: Kreativitas & Keberbakatan, Strategi
Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat. Prof Dr.
S.C. Utami Munandar. (Hal. 246 – 249
http://esemkaduaternate.blogspot.com/2011/12/
mengajar-kreatif-definisi-mengajar.html
http://meilina1515.blogspot.com/2012/12/
belajar-dan-mengajar-secara-kreatif.html
http://yohanayayangcitradevi.blogspot.com/2015/04/
belajar-dan-mengajar-kreatif_57.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar